Apa Itu Qiyamul Lail & Keutamaan Sholat Malam

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Ini adalah penjelasan tentang Qiyam Al-Layl. Silahkan dipelajari.

Apa itu Qiyam Al-Layl?

Qiyam ‘berarti’ berdiri ‘dan’ Qiyam al-Layl ‘berarti’ berdiri di malam hari. ‘ Dalam terminologi Islam, kedua istilah ini merujuk pada ‘Ibadah malam yang dilakukan dengan sukarela, yang waktunya setelah Shalat’ Isya ‘(malam) hingga subuh. Qiyam al-Layl juga sering dihubungkan sebagai Tahajjud.

Kesalahpahaman yang tersebar luas adalah bahwa Tahajud adalah Sholat malam yang berbeda dari Qiyamul Lail. Yang benar adalah bahwa Shalat Tahajud adalah bagian dari Qiyamul Lail yakni ibadah malam yang dilakukan dengan sukarela dan merupakan bagian dari Qiyamul Lail.

Jadi Qiyamul Lail adalah ibadah—bisa Sholat Tahajud, Sholat Malam (Bukan Tahajud), Baca Al Qur’an, Berdzikir—yang dilakukan setelah tidur atau sebelum tidur.

Dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 34: 117, Muroqi Al-Falah menjelaskan bahwa Qiyamul Lail adalah kesibukan malam hari untuk ibadah. Adapula yang menjelaskan bahwa cukup dengan membaca Al Qur’an, mendengar Hadits, Dzikir, baca Sholawat walaupun sesaat sudah termasuk Qiyamul Lail.

Keutamaan Sholat Malam di Qiyamul Lail:

Banyak Hadits kenabian dan ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan keutamaan ibadah malam dan balasan bagi mereka yang melakukannya secara teratur.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman:

يَأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ, قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلاً , نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً, أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً

“Artinya: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”.[Quran 73: 1-4].

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” [HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808].

Aisyah Radhiyallahu Anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

وَاعْلَمُوا أَنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Dan ketahuilah bahwasanya amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla, adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” [HR. Muslim 2818].

Dan di riwayat lain bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam amat mencintai Sholat malam, jika ia tidak mengerjakan karena suatu alasan, maka beliau akan menggantinya dengan mengerjakan Sholat dua belas rakaat di waktu siang.

أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ، فَلَمْ يُصَلِّ بِاللَّيْلِ، صَلَّى مِنَ النَّهَارِ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila di malam hari tidur karena sakit atau lainnya sehingga beliau tidak melakukan shalat Tahajjud, maka di siang harinya beliau shalat sebanyak dua belas raka’at.”[HR. Muslim dalam kitab Shalaatil Musaafiriin, bab Jaami’u Shalaatil Laili wa man Naama ‘anhu aw Maridha (hadits no. 746)].

Rasulullah Sallallahu AlaIhi Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku ijabahi doanya, siapa yang meminta-Ku akan Aku beri dia, dan siapa yang minta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni dia.” [HR. Bukhari 1145, Muslim 758, Abu Daud 1315].

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ

“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]

Mu’adh Ibn Jabal Radiyallahu Anhu, meriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu `Alaihi Wa Sallam berkata kepadanya: “Bolehkah saya tunjukkan gerbang kebaikan? ‘ (Mereka) “Puasa adalah hijab dari neraka, amal memadamkan dosa-dosa seperti air memadamkan api, berdiri dalam Sholat oleh seorang hamba Allah selama sepertiga malam.” Kemudian Nabi Sallallahu `Alayhi Wa Sallam membaca ayat ini: ” Mereka bangkit dari tempat tidur mereka; mereka memohon kepada Tuhan mereka dalam ketakutan dan aspirasi … “(Al-Quran 32: 16) [Abu Dawud dan At-Tirmidzi].

Abu Hurairah Radiyallahu Anhu, melaporkan bahwa Rasulullah Shallallaahu `Alaihi Wa Sallam bersabda:

وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah].

Abu Hurayrah Radiyallahu Anhu, juga melaporkan bahwa Rasulullah Shallallaahu `Alaihi Wa Sallam, bersabda:

“Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya. Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu shalat dan membangunkan suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” [HR. Abu Daud].

Abdullah Ibn Bashr Radiyallahu Anhu, melaporkan bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda: “Siapa pun yang Sholat malam membaca sepuluh ayat, ia tidak akan dicatat di antara orang yang lalai. Siapa pun yang sholat malam membaca seratus ayat, ia akan dicatat di antara orang beriman. Dan siapa pun yang sholat malam melantunkan seribu ayat, ia akan dicatat di antara mereka yang banyak berbuat baik. ” [Abu Dawud].

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” [QS. Az Zumar: 9].

Lebih lanjut, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, ada satu jam selama seluruh malam, dimana ketika seorang Muslim berserah diri kepada Allah dan memohon kepada Allah dan berdoa apapun kepadaNya, terlepas apapun urusan dunia atau akhirat yang dia minta. Allah akan mengabulkannya secara penuh permintaan itu. Dan hal ini terjadi setiap malam.” [Muslim].

Mereka yang secara teratur melakukan Shalat malam adalah orang benar dan lebih pantas menerima karunia dan kemurahan Allah. Allah berfirman:  “Sungguh, orang-orang benar akan berada di antara taman-taman dan mata air, menerima apa yang Tuhan telah berikan kepada mereka. Sesungguhnya, mereka sebelum itu orang-orang yang berbuat baik. Mereka dulu tidur saat malam tetapi hanya sedikit, dan di jam sebelum fajar mereka akan meminta ampunan. ” [Quran 51: 15-18].

Allah berfirman bahwa mereka yang tidak memiliki sifat-sifat ini tidak dapat diperlakukan sama dengan mereka yang memilikinya. Dia Yang Mahakuasa berfirman:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.[Quran 39: 9]

Etika doa malam

Tindakan-tindakan berikut ini adalah Sunnah (disarankan) bagi orang yang ingin melakukan shalat malam. Saat akan tidur, seseorang harus membuat niat untuk melakukan Sholat. Abu Ad-Darda, Radhiyallahu Anhu, menceritakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang pergi ke tempat tidurnya dengan niat untuk bangun dan Sholat pada malam hari, dan tidur mengalahkannya sampai pagi tiba, akan tercatat baginya apa yang ia maksudkan, dan tidurnya akan menjadi sedekah baginya dari Tuhannya”. [An-Nasa’i dan Ibnu Majah].

Setelah bangun, seseorang harus menyeka wajahnya, menggunakan miswaak (tusuk gigi), dan membuat permohonan ini: “Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, saya mencari pengampunan dari Engkau untuk dosa-dosa saya, dan saya meminta belas kasihan-Mu. Ya Allah, tingkatkan pengetahuanku dan jangan sampai hatiku melenceng setelah Engkau membimbingku, dan berikan rahmat kepadaku dariMu sendiri. Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami kembali hidup setelah kematian (Tidur) dan kepada-Nya kami dibangkitkan. ”

Seseorang harus memulai shalat malam dengan dua rakaat cepat dan kemudian dapat berdoa apa pun yang dia inginkan setelah itu. ‘Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: “Ketika Nabi Shallallahu `Alaihi Wa Sallam Sholat di tengah malam, ia akan memulai shalat dengan dua rakaat cepat.” [Muslim].

Waktu yang disarankan untuk sholat malam:

Sholat malam dapat dilakukan pada bagian awal malam, bagian tengah malam, atau bagian akhir malam, tetapi setelah mengerjakan Sholat wajib ‘Isya’ (malam).

Waktu terbaik untuk Sholat dan mengingat Allah:

Waktu terbaik Sholat Malam Tahajud adalah menunda Sholat ini sampai bagian terakhir malam atau sepertiga malam. Abu Hurairah semoga Allah Radiyallahu Anhu, melaporkan bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” [HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808].

‘Amr Ibn Abasah, Radiyallahu Anhu, melaporkan bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu `Alaihi Wa Sallam bersabda: “Yang paling dekat dengan seorang hamba datang kepada Tuhannya adalah di tengah-tengah bagian terakhir dari malam itu. Jika Anda dapat berada di antara mereka yang ingat Allah, Yang Maha Tinggi, pada saat itu maka lakukanlah. ” [Al-Hakim, At-Tirmidhi dan An-Nasa’i].

Jumlah rak’ah yang akan dilakukan selama sholat malam:

Shalat malam tidak dibatasi oleh jumlah rakaat tertentu yang harus dilakukan juga tidak ada batas maksimum yang harus dilakukan, termasuk juga bagi orang yang mengerjakan satu rakaat Shalat Witir sebagai penutup Shalat Tarawih atau juga shalat wajib.

Samurah Ibn Jundub, Radiyallahu Anhu bersabda: “Rasulullah memerintahkan kita untuk Shalat pada malam hari, sedikit atau banyak, dan menjadikan Shalat Witir sebagai penutup.” [At-Tabarani dan Al-Bazzaar].

Lebih disukai untuk berdoa sebelas atau tiga belas rakaat untuk shalat malam:

Seseorang dapat memilih untuk Shalat secara berjamaah atau sendiri. ‘Aisyah, Radiyallahu Anha, berkata: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tidak pernah shalat lebih dari sebelas rakaat, selama Ramadhan atau sebaliknya. Dia Shallallahu `Alaihi Wa Sallam akan Sholat empat rakaat, dan tidak bertanya tentang seberapa baik mereka atau berapa lama mereka. Kemudian, dia Shallallahu `Alaihi Wa Sallam akan Sholat empat rakaat, dan tidak bertanya tentang seberapa baik mereka atau berapa lama mereka. Kemudian, dia Shallallahu `Alaihi Wa Sallam akan Sholat tiga rakaat. Saya bertanya: ‘Wahai Utusan Allah, apakah kamu tidur sebelum Sholat Witir? ‘ Dia Shallallahu `Alaihi Wa Sallam menjawab: ‘Oh Aisyah, mataku tidur tapi hatiku tidak tidur. “‘[Al-Bukhari dan Muslim].

‘Aisyah Radiyallahu Anha, mengatakan: “Sholat Rasulullah pada malam hari akan menjadi sepuluh Rak’ah dan kemudian dia Shallallahu `Alaihi Wa Sallam akan mengerjakan Sholat Witir dengan satu Rak’ah.”

Insya Allah artikel tentang apa itu Qiyamul Lail dan keutamaan Sholat Malam ini bermanfaat bagi anda semua dan silahkan beritahukan kepada keluarga, saudara, kerabat dan teman siapa tahu membutuhkan artikel ini dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Islam dari AiTarus.Com berikutnya di masa depan.

Tinggalkan komentar