Apa Kata Ulama Tentang Perayaan Maulid?

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Bagaimana pendapat ulama mengenai perayaan Maulid, apakah merayakannya merupakan perkara bid’ah sesat yang ditentang oleh syariat Islam. Untuk menjawab itu maka silahkan dibaca untuk memahami apa kata para ulama tentang Maulid.

Sekarang ini kita berada di bulan Rabiul Awal, bulan dimana lahirnya sebaik-baiknya manusia yang Allah telah Ciptakan yakni Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam, dan umat Islam merayakan dan memperingati hari lahirnya dengan peringatan Maulid.

Di artikel ini akan saya ungkap sejumlah pendapat ulama yang mu’tabar dan masyhur yang sudah diakui keilmuan dan kredibilitasnya mengenai pendapat mereka tentang peringatan Maulid.

Tujuan kami publikasikan berita ini untuk memberikan kabar gembira pada kaum Muslimin bahwa peringatan maulid merupakan perkara yang ma’ruf menurut para ulama ini sebagai lanjutan artikel kami sebelumnya yakni dalil al-Qur’an tentang Maulid.

Sekaligus guna mengkonter pendapat yang mengatakan bahwa Maulid adalah bid’ah sesat seperti yang selalu di didengungkan oleh pengikut ibn Abdul Wahab, Salafi, yang padahal merekalah yang sebenar-benarnya pelaku bid’ah bahkan bid’ah amat sesat melalui perkara pembagian Tauhid.

Apa kata ulama tentang perayaan Maulid?

Imam Al-Suyuthi (w. 911 H). Beliau berkata dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawa:

عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

Artinya: “Menurut saya, hukum pelaksanaan maulid Nabi Saw, yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi Saw pada permulaan perintah Nabi Saw serta peristiwa yang terjadi pada saat beliau dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala orang yang memperingatinya karena bertujuan untuk mengagungkan Nabi Saw serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahirannya.”

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 973 H) juga membolehkan merayakan maulid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Halbi dalam kitabnya Al-Sirah Al-Halbiyah berikut:

سنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك اي بدعة حسنة

Artinya:

“Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah telah disepakati kesunnahannya. Melakukan maulid dan berkumpulnya manusia untuk maulid juga termasuk bid’ah hasanah.”

Imam Ibnu Abidin Al-Hanafi (w. 1252 H) mengatakan;

اعلم ان من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه صلى الله عليه وسلم

Artinya:

“Termasuk bid’ah terpuji adalah melakukan maulid di bulan Nabi Saw dilahirkan.”

Sumber perkataan ulama diatas bersumber dari HarakahIslamiyah.

Itulah pendapat-pendapat dari ulama-ulama yang jelas keilmuannya, mereka bukan tipe manusia yang hanya bicara tanpa terlebih dahulu melakukan pembelajaran berupa tela’ah, namun melalui proses pemikiran dan penelitian sehingga mereka menyimpulkan dalam bentuk pendapat bahwa Maulid merupakan bid’ah hasanah / terpuji.

Lalu datang manusia-manusia yang berpedoman pada ulama-ulama masa kini, menghukumi bahwa semua bid’ah adalah sesat—tidak ada bid’ah terpuji—termasuk merayakan Maulid.

Lalu pertanyaannya sekarang, siapa yang akan kita pilih pendapat ulama sekelas Imam Suyuthi dan Imam Ibn Hajar al-Haitami atau pendapat ulama-ulama seperti Ibn Abdul Wahab. Tentu kita lebih condong memegang pendapat ulama-ulama terdahulu dibandingkan ulama yang datang kemudian namun tidak berlandaskan dalil yang kuat, karena itulah yang semestinya.

Namun jika kita ditanya kenapa para ulama itu tidak merayakan Maulid? Karena Maulid bukanlah ibadah, namun sebatas bentuk rasa syukur akan rahmat yang Allah Azza Wa Jalla berikan kepada umat manusia yaitu mengutus Rasul-Nya untuk membawa kepada keselamatan.

Karena bukan perkara ibadah, maka tidak heran jika para ulama itu tidak melaksanakannya, begitu pula para pendahulunya hingga para sahabat. Karena bentuk syukur bisa diaplikasikan ke banyak cara sejauh tidak melanggar ketentuan Syariat.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel-artikel saya berikutnya.

Allahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar