Apakah Membagi Tauhid Menjadi 3 Adalah Bid’ah?

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Apakah pembagian Tauhid menjadi 3 merupakan perkara bid’ah? Apakah ada contoh dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam dan para sahabatnya? Silahkan dibaca penjelasannya disini.

Sekarang ini kita menemui sebuah metode membagi Tauhid menjadi 3 guna mengenal Allah Ta’ala, lalu timbul pertanyaan apakah metode ini bid’ah?

Jawabnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam tidak pernah mencontohkan pembagian Tauhid menjadi tiga berikut penamaan masing-masingnya yakni—Rububiyah, Uluhiyah dan Asma Wa Shifaat—jikalau metode ini benar sebagai cara mengajari umat mengenal Allah Ta’ala, maka tentulah Rasulullah orang pertama yang akan menggunakannya atau juga mewasiatkan kepada para sahabatnya untuk menggunakannya.

Dan di dalam al-Qur’an kita tidak pernah menemukan satu ayat yang menyerukan / memerintahkan umat Islam untuk membagi Tauhid menjadi tiga guna mengajari umat.

Jadi metode ini adalah tanpa dalil dan merupakan perkara bid’ah. Karena tidak ada rujukan baik dari al-Qur’an dan al-Hadis dan tidak ada contohnya.

Sebaik-baik petunjuk adalah kitabullah dan sebaik-baik pengajar adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, dan dari kedua sumber mutlak Islam—secara tegas—tidak kita temui istilah-istilah maupun pembagian Tauhid seperti ini.

Lalu kenapa Salafi menggunakannya?

Pembagian Tauhid menjadi tiga merupakan sebuah metode yang semata-mata adalah hasil inovasi / perkara baru yang mereka rumuskan. Tiada contoh dari Nabi Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam dan tidak berdalil karena tidak ada rujukkan eksplisit dari nash kitab suci al-Qur’an al-Karim.

Yang dilakukan Salafi untuk mengesahkan metode ini ialah berlandaskan kepada sejumlah ayat-ayat al-Qur’an sebagai pondasi (Ushul) untuk menggunakan metode bid’ah ini.

Jika ditanya dimana dalil membagi Tauhid maka mereka akan membawa ayat dari Surah al-Qur’an Maryam berikut ini:

Tauhid Rububiyyah dapat ditemui pada Firman Allah berikut ini: رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya) (Qs. Maryam:65).

Tauhid Uluhiyyah dapat ditemui pada Firman Allah berikut ini: فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya.) (Qs. Maryam:65).

Tauhid Asma’ wa Sifat dapat ditemui pada Firman Allah berikut ini: هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)) (Qs. Maryam:65).

Namun tidak ada penjelasan eksplisit (Tegas) mengenai perintah untuk membagi Tauhid menjadi 3 dan penyebutan masing-masing istilah Tauhid tadi.

Yang dilakukan oleh Salafi ialah menggunakan pemahaman mereka dari ayat-ayat tadi kemudian merumuskannya kedalam pembagian Tauhid menjadi 3 yang adalah Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma Wa Sifat.

Metode Salafi dalam menghukumi perkara bid’ah

Pada kasus ini para Salafi tidak menggunakan metode yang biasa mereka gunakan untuk menghukumi perkara bid’ah seperti Maulid, Tahlilan dan lainnya.

Metode yang digunakan oleh para Salafi untuk menghukumi sebuah perkara sebagai bid’ah adalah sebagai berikut:

  • Jika tidak dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya maka perkara itu bid’ah.
  • Jika perkara itu benar, pastinya Nabi dan para sahabatnya sudah melakukannya terlebih dahulu.

Pada kasus pembagian Tauhid menjadi 3, maka pihak Salafi tidak menggunakan kedua metode mereka, melainkan bermain dengan pemahaman sendiri kemudian melakukan perumusan.

Dan memang kita tidak menemui poin 1 dan 2 pada kasus pembagian Tauhid, begitu pula tiada dalil eksplisit dari al-Qur’an memerintahkan pembagian Tauhid ini.

Metode yang digunakan oleh para Salafi untuk menghukumi sebuah perkara sebagai tanpa dasar adalah sebagai berikut:

  • Adakah dalil dari al-Qur’an sebagai rujukan perkara ini?
  • Adakah dalil dari al-Hadis sebagai rujukan perkara ini?

Lagi-lagi mereka tidak menggunakan metode ini, berbeda sekali ketika mereka memposisikan diri sebagai jaksa yang menuntut pengamal Maulid dan Tahlil untuk menghadirkan ayat al-Qur’an dan al-Hadis sebagai rujukan.

Mereka tidak melakukan hal yang sama. Kecuali mereka mengambil sejumlah ayat yang mendukung kemudian menjadikannya sebagai dalil untuk pembagian Tauhid menjadi 3.

Sekali lagi, mereka menjadikan sejumlah ayat-ayat al-Qur’an sebagai pondasi kemudian membuat istilah yang menghasilkan sebuah metode membagi Tauhid guna mengajari umat mengenal Allah Ta’ala.

Salafi menggunakan metode bid’ah dalam mengajari umat mengenal Tuhannya. Dan metode ini merupakan bid’ah besar dan amat sesat. Baca terus untuk ketahui kenapa pembagian Tauhid menjadi 3 merupakan bid’ah amat sesat.

Metode Tauhid yang Nabi ajarkan

Umat Islam diajarkan Tauhid oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam yaitu:

لا اله الا الله

Artinya:

“Tiada Tuhan selain Allah.”

Inilah Tauhid yang diajarkan Nabi, dimana di dalam kalimat tersebut sudah termasuk Rububiyah, Uluhiyah dan Asma Wa Sifat tanpa perlu membaginya menjadi 3.

Baca juga rukun Iman dan penjelasannya.

Pembagian Tauhid adalah bid’ah sesat!

Pembagian Tauhid menjadi 3 adalah bid’ah sangat sesat. Kenapa bisa begitu?

Kita definisikan dulu masing-masing dari 3 istilah Tauhid ini. Karena dalam pembagian Tauhid, maka anda harus mengakui ketiga poin berikut:

  • Rububiyah: Meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta dan segala isinya.
  • Uluhiyah: Meyakini penyembahan dan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala saja tanpa mempersekutukanNya dengan apapun.
  • Asma Wa Sifat: Meyakini nama dan sifat Allah Ta’ala.

Dari 3 Tauhid diatas maka akan membuahkan perkara amat bid’ah yakni:

Secara pasti maka akan ada pembagian jenis Muslim dan Kafir. Kenapa bisa begitu? Silahkan dibaca penjelasan berikut ini:

Akan ada 2 jenis Kafir

Jika menggunakan pembagian Tauhid menjadi 3 konsekuensinya akan terjadi pembagian jenis kafir sebanyak dua jenis, penjelasannya sebagai berikut:

Wahabi meyakini kaum Musyrikin sebagai ahli Tauhid yakni ahli Tauhid Rububiyah, berlandaskan ayat berikut:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Artinya:

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”

Dalam kaidah Wahabi, ada kaum Musyrik yang berTauhid. Kenapa bisa Musyrik berTauhid? Karena menurut Wahabi—merujuk ayat diatas—kaum Musyrik meyakini Allah-lah Sang Maha Pencipta oleh karenanya kata mereka kaum Musyrik berTauhid Rububiyah. Namun tidak ber-Tauhid Uluhiyah dan Asma Wa Sifat.

Dengan begitu, maka—secara langsung dan tidak langsung—Wahabi melakukan bid’ah dengan membagi Kafir menjadi dua yakni Kafir ahli Tauhid dan kafir yang bukan ahli Tauhid.

Jadi pengkategorian jenis kafir jika dimasukkan dalam daftar adalah sebagai berikut:

  • Kafir ahli Tauhid yakni Musyrik Mekah yang meyakini Tauhid Rububiyah.
  • Kafir bukan ahli Tauhid yakni orang-orang yang tidak meyakini ketiganya.

Padahal Allah Ta’ala menyebut orang Musyrik sebagai Pendusta yang Ingkar (كَاذِبٌ كَفَّارٌ).

Pertanyaannya: Bagaimana mungkin orang-orang yang Allah Ta’ala katakan sebagai pendusta yang ingkar sebagai ahli Tauhid?

Apakah ada dalam Islam ajaran seperti ini?

Akan ada 2 jenis Muslim

Selain menghasilkan bid’ah pembagian Kafir, maka jika menggunakan pembagian Tauhid menjadi 3 akan ada pula pembagian jenis Muslim sebanyak dua jenis Muslim, penjelasannya sebagai berikut:

Mayoritas umat Islam mengimani Rububiyah dan Uluhiyah, namun menolak Asma Wa Sifat versi Wahabi dimana Tauhid ini meyakini Allah Ta’ala punya tangan, kaki, wajah dan bertempat.

Dari hasil penolakkan itu, maka menghasilkan dua jenis Muslim, yakni: 

  • Muslim yang sebenarnya yakni yang lulus Uluhiyah, Rububiyah dan Asma Wa Sifat yakni para Salafi.
  • Muslim yang setengah-setengah yang tidak lulus di Asma Wa Sifat.

Maka secara logika, mayoritas umat Islam tidak sempurna Tauhidnya hasilnya dihukumi sebagai Muslim yang sama pemahaman Tauhidnya seperti Musyrikin.

Jadi anda, saya dan semua yang tidak mempercayai Allah berlari, Allah duduk, Allah berkaki, Allah bertangan dan Allah berwajah maka Tauhidnya tidak sempurna. Kurang lebih sama seperti Musyrikin Mekkah.

Muslim rasa Musyrik.

Wahabi Salafi telah melakukan bid’ah terbesar dan amat sesat dan menyesatkan. Semoga kita dijauhkan dari perkara yang bid’ah sesat sejauh-jauhnya.

Allahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar