Apakah Orang Murtad Harus Dihukum Mati?

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Pertanyaan: Islam memiliki aturan hukuman mati bagi orang murtad. Apakah ini berarti di dalam Islam tidak ada kebebasan memeluk agama?

Oleh karenanya ada perbedaan antara “murtad” yang berbahaya bagi masyarakat Muslim (Murtad besar) dan murtad yang hanya untuk dirinya secara individu (Murtad kecil).

Jenis murtad

Murtad kecil ialah mereka yang memeluk Islam setelah waktu berselang kemudian menolak Islam dengan mengeluarkan dirinya dari agama Islam.

Maka tidak ada hukuman resmi untuk murtad jenis ini sejauh ia melakukannya tidak untuk membahayakan masyarakat Muslim.

Sedangkan murtad besar adalah ketika seseorang memeluk Islam, kemudian keluar darinya dan kemudian mengumandangkan perang atau kebencian terhadap masyarakat Muslim.

Tindakan Murtad besar ini setara dengan kejahatan khianat besar dan bisa dijatuhi hukuman mati padanya demi menyelamatkan masyarakat Muslim.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَّمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” [Surah an-Nisa 4:137].

Pada ayat ini, Allah Ta’ala menggambarkan seorang yang murtad dari Islam sebanyak dua kali, namun Allah Ta’ala tidak menjatuhkan hukuman apapun kepadanya di dunia. Akan tetapi memperingatkan kepada yang murtad akan hukuman akhirat yang akan diderita kelak.

Berlandaskan pada ayat ini kita dapat melihat bahwa aturan utama masalah Murtad adalah tidak memaksanya, karena al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

Firman Allah Ta’ala:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Artinya:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” [Surah Al-Baqarah 2:256].
Dan Allah Ta’ala berFirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Artinya:

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” [Surah Al-Kahfi 18:29].

Karena inilah, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam tidak menghukum siapapun hanya karena mereka telah murtad.

Jabir Radiallahu anhu meriwayatkan: Seorang Badui mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam, dan menghaturkan sumpah setia untuk memeluk Islam. Di hari berikutnya, ia datang dalam keadaan demam dan berkata; “Tolong batalkan sumpahku.” Nabi menolaknya sebanyak tiga kali dan berkata:

>الْمَدِينَةُ كَالْكِيرِ تَنْفِي خَبَثَهَا، وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا

Artinya:

“Madina bagaikan sebuah tungku. Ia membuang hal kotor dan mengumpulkan (hanya) yang suci.” [Sahih Bukhari 1784].

Pada hadis diatas, kita mendapati sebuah riwayat mengenai seorang pria yang telah menolak Islam setelah memeluknya namun begitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam tidak menjatuhkan hukuman fisik terhadapnya.

Dari sinilah kita mendapatkan bimbingan bahwa untuk kemurtadan kecil, maka Nabi Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam mengajarkan untuk tidak menghukumnya secara fisik.

Kecuali murtad besar yang mengancam keselamatan umat Islam.

Abdullah Bin Mas’ud (Radhiyallahu Anhu) meriwayatkan: Rasulullah, Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, menerapkan hukuman terhadap kasus berikut ini:

وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Artinya:

“Orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah.” [Sahih Muslim 1676].

Yang dimaksud dengan “memisahkan diri dari jamaah” (al-mufariq lil-jama’ah) adalah atau mengindikasikan bahwa orang tersebut  dihukum bukan karena tidak menjalankan Islam, melainkan karena pengkhianatannya terhadap otoritas Muslim.

Pemikiran ini diperkuat oleh riwayat lain dimana Nabi Muhammad, Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, memberikan penjelasan mengenai murtad besar sebagai berikut:

رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ يُحَارِبُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ

Artinya:

“Seorang manusia yang menolak Islam dan melakukan peperangan terhadap Allah (Azza Wa Jalla) Yang Agung dan RasulNya (Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam).” [Sunan An-Nasa’i 4048].

Ibn Abbas (Radhiyallahu Anhu) meriwayatkan:

فَمَنْ قَتَلَ وَأَفْسَدَ فِي الأَرْضِ وَحَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ثُمَّ لَحِقَ بِالْكُفَّارِ قَبْلَ أَنْ يُقْدَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَمْنَعْهُ ذَلِكَ أَنْ يُقَامَ فِيهِ الْحَدُّ الَّذِي أَصَابَ

Artinya:

“Barangsiapa yang membunuh, melakukan kerusakan dimuka bumi, berperang terhadap Allah dan RasulNya, dan bergabung dengan orang kafir sebelum ia ditaklukan, maka tiada rintangan apapun untuk menghukumnya atas apa yang telah ia lakukan.” [Sunan An-Nasa’i 4046].

Dan penjelasan ini memang benar adanya, karena sebagian Sahabat menafsirkan riwayat tersebut seperti ini dan mencirikan seorang murtad adalah:

حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

“Orang yang memerangi Allah (Azza Wa Jalla) dan RasulNya.” [Ṣaḥīḥ al-Bukhārī 4334].

Dari riwayat ini dapat kita fahami bahwa hukuman resmi baru dapat diterapkan bagi mereka yang “menyatukan” kemurtadannya dengan pengkhianatan.

Islam tidak mengurung manusia akan tetapi Islam memberikan kebebasan memeluk agamanya, oleh karena itu mereka yang ingin meninggalkannya tidak diancam hukum duniawi apapun seperti yang tertera dalam al-Qur’an dan lagi orang beriman seharusnya mereka yang menahan diri dari melakukan pertumpahan darah.

Abdullah ibn Mas’ud (Radhiyallahu Anhu) meriwayatkan, Nabi, Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, mengatakan:

أَعَفُّ النَّاسِ قِتْلَةً أَهْلُ الْإِيمَانِ

“Orang yang paling menahan diri dari melakukan pembunuhan adalah orang beriman.” [Musnad Ahmad 3720].

Lebih lanjut, pada sejumlah kasus murtad besar yang seharusnya dikenakan hukuman mati bisa “selamat” jikalau mendapat perlindungan dari seorang Muslim.

Ini seperti riwayat dari Ibn Abbas (Radhiyallahu Anhu):

>كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ يَكْتُبُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَزَلَّهُ الشَّيْطَانُ فَلَحِقَ بِالْكُفَّارِ فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقْتَلَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَاسْتَجَارَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَأَجَارَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

“Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh bisa menjadi penulis Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam) namun ia tergoda setan kemudian bergabung dengan kafir. Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam) memerintahkan untuk membunuhnya saat hari penaklukan Mekkah. Namun Usman Bin Affan (Radhiyallahu Anhu) memohon ampunan untuknya, akhirnya Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam) mengabulkan nya.” [Sunan Abu Dawud 4358].

Pada contoh kasus ini, seorang pria telah memeluk Islam dan  murtad selanjutnya bergabung dengan Musyrikin Mekkah yang pada saat itu berperang dengan Muslim.

Saat Mekkah menyerah dan takluk tanpa perlawanan, Usman Bin Affan memohonkan ampun untuk orang yang murtad ini, dan Nabi Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam mengabulkannya.

Sekali lagi perlu diingat bahwa orang yang murtad ini bergabung dengan musuh oleh karenanya Rasulullah, Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, memerintahkan untuk membunuhnya.

Kesimpulan

Hukuman mati bagi orang yang murtad dibatasi hanya bagi mereka yang berkhianat imbasnya akan membahayakan umat Islam. Namun bagi mereka yang murtad secara individu dan tidak membahayakan maka hukuman fisik tidak berlaku bagi mereka.

Saksikan video seorang wanita bertanya kepada Zakir Naik mengenai hukuman mati bagi murtad berikut ini:

Allahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar