Bolehkah Shalat Tahajud Berjamaah?

Oleh

DITERBITKAN 6:51 pm Kam Januari 2020

WAKTUJAKARTA.COM — Apakah anda pernah bertanya mengenai bolehkan melaksanakan Sholat Tahajud secara berjamaah? Kan kalau berjamaah tentu pahalanya lebih besar dibandingkan sendirian. Lalu bagaimana jika berjamaah untuk melaksanakan Tahajud? Jawabnya adalah boleh, namun penjelasan rinciannya adalah sebagai berikut.

Bolehkah Shalat Tahajud berjamaah?

Menurut situs NU, melaksanakan Sholat Tahajud secara berjamaah hukumnya tetap sah. Sah disini hanya sebatas dari segi pelaksanaan secara berjamaah, tidak mendapat pahala berjamaah.

Jadi jikalau seseorang melaksanakan Shalat Tahajud berjamaah, maka dirinya mendapatkan pahala hanya karena melaksanakan Tahajud saja, dan tidak mendapatkan pahala dari faktor jamaahnya.

Dan bagaimana jika melakukan jamaah guna mengajari orang lain?

Apabila tujuan berjamaah dimaksudkan untuk mengajari seseorang agar dapat bertahajud dan membuatnya terbiasa melakukannya, maka niatan itu Insya Allah mendapat pahala dikarenakan niatan ingin mengajari orang lain, dan hal ini merupakan aktivitas cukup lazim ditemui di sejumlah ponpes di Indonesia.

Akan tetapi pembolehan melaksanakan Tahajud berjamaah agar tidak dijadikan dalil untuk meyakini bahwa Tahajud secara berjamaah merupakan hal yang ditekankan oleh Syariat. Jika keyakinan itu dijadikan pegangan maka melaksanakan Sholat Tahajud berjamaah menjadi hal yang haram bahkan harus dicegah.

Namun tujuan baik yang terdapat di balik pelaksanaan shalat Tahajud secara berjamaah dalam permasalahan di atas dibatasi sekiranya tidak sampai memunculkan mudarat, seperti akan menimbulkan persepsi pada orang lain bahwa shalat tahajud secara berjamaah merupakan hal yang dianjurkan oleh syara’.

Maka ketika memunculkan mudarat tersebut, melaksanakan shalat tahajud secara berjamaah menjadi haram bahkan wajib untuk dicegah. Penetapan ini seperti yang dipaparkan oleh Bughyah al-Mustarsyidin:

ـ (مسألة : ب ك) : تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب ، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب ، وأي ثواب بالنية الحسنة ، فكما يباح الجهر في موضع الإسرار الذي هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة ، وكما يثاب في المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوّي بالأكل على الطاعة ، هذا إذا لم يقترن بذلك محذور ، كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها

“Diperbolehkan berjamaah pada shalat-shalat yang serupa dengan shalat sunnah witir dan tasbih, maka hal tersebut tidak dimakruhkan dan tidak mendapatkan pahala (atas jamaahnya), memang jika pelaksanaan jamaah tersebut ditujukan untuk mengajari orang-orang yang shalat dan memotivasi mereka, maka mendapatkan pahala dan setiap pahala digantungkan pada niat yang baik. Seperti halnya diperbolehkan mengeraskan suara pada shalat yang dianjurkan untuk dibaca pelan-pelan yang asalnya makruh, lalu diperbolehkan karena bertujuan mengajari (orang lain), apalagi shalat yang asalnya diperbolehkan (untuk dilaksanakan berjamaah).

Sedangkan menurut penjelasan Ibnu Qudamah Rahimahullah dalam Al-Mughni juz 2. hal.104, yaitu dibolehkan melaksanakan Sholat (selain fardhu) secara berjamaah atau sendiri karena Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melaksanakan dengan dua cara itu (bejamaah dan sendiri). Namun beliau (Shallallahu Alaihi Wa Sallam) lebih sering melaksanakannya sendirian.

Dan Syaikh Utsaimin Rahimahullah berpandangan sama dimana beliau menjelaskan bahwa sholat-sholat sunnah yang tidak ditemukan sunnahnya untuk dilakukan secara berjamaah adalah (hanya) Sholat Rawatib, shalat malam selain bulan Ramadhan. Karenanya boleh dilaksanakan secara berjamaah sejauh tidak dilakukan secara terus-menerus.(http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18059.shtml).

Tinggalkan komentar