Cara Sholat Gerhana Beserta Niatnya

SHOLAT GERAHANA disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam untuk dikerjakan jika terjadi gerhana matahari dan bulan. Ini adalah panduan lengkap melaksanakan Sholat Gerhana untuk Anda.

Oleh

DITERBITKAN 10:32 am Rab Juli 2021

WAKTUJAKARTA.COM — Gerhana merupakan kondisi astronomi yang terjadi menurut waktu tertentu dimana adanya benda angkasa bergerak masuk ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lainnya.

Fenomena alam ini pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam, dimana saat itu Rasulullah sedang diberi cobaan meninggalnya puteranya, Ibrahim.

Dan sebagian orang menghubungkan terjadinya gerhana matahari dikarenakan meninggalnya putra beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam, oleh karenanya beliau menjawab bahwa gerhana matahari tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang.

Lebih lanjut Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam menyerukan agar seluruh umatnya melakukan Shalat dan berdoa, daripada menduga-duga hal yang tanpa dasar. Seperti himbauan Rasulullah berikut ini.

كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ، فَقَالَ النَّاسُ كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ »

”Di masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari ketika hari kematian Ibrahim. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa munculnya gerhana ini karena kematian Ibrahim. Lantas Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalat dan berdo’alah.’” [HR. Bukhari no. 1043].

Alhasil Shalat Gerhana menjadi hal Sunnah, bahkan sebagian ulama seperti Imam Abu Hanafi mewajibkannya, selain itu Imam Malik menyamakannya dengan Sholat Jum’at. Sedangkan pendapat lain menetapkannya sebagai Sunnah Muakkadah yakni yang amat ditekankan untuk dilaksanakan.

Berlandas dari sejumlah hadits dimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang menyerukan melakukan Shalat saat terjadi gerhana, maka pendapat Imam Abu Hanifah yang mewajibkan Shalat ini tampak paling kuat.

Apa itu gerhana?

Ada dua macam gerhana yakni gerhana bulan dan gerhana matahari, dimana penjelasan dari masing-masing fenomena luar angkasa itu adalah sebagai berikut.

  • Gerhana bulan.
    Gerhana bulan adalah tertutupnya sebagian atau seluruh penampakan bulan oleh bayangan bumi. Hal ini terjadi dikarenakan bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, hasilnya sinar matahari tidak menjangkau bulan karena terhalang bumi.
  • Gerhana matahari.
    Gerhana matahari merupakan fenomena astronomi dimana bulan berada diantara matahari dan bumi, dengan begitu cahaya matahari tertutup sebagian atau seluruhnya oleh bulan sehingga tidak mencapai bumi, hasilnya waktu siang hari tampak gelap di daerah tertentu.

Dalil mengerjakan Shalat Gerhana

Dan berikut adalah hadits lainnya yang bisa dijadikan dalil untuk mewajibkan Shalat Gerhana,  atau paling tidak melaksanakannya guna memenuhi Sunnah.

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, berakhirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” [HR. Bukhari no. 1044].

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menekankan agar bersegera melaksanakan Shalat Gerhana, yakni pada hadits berikut.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

”Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” [HR. Bukhari no. 1047].

Dan juga dalam riwayat lain diberitakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk melakukan Shalat jika melihat gerhana.

فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا

”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka sholatlah.”[HR. Bukhari no. 1043].

Kapan waktu melaksanakan Shalat Gerhana?

Lalu pertanyaannya adalah kapan waktu melaksanakan Shalat sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam? Untuk menjawab ini kita bisa langsung merujuk kepada sebuah hadits

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ

”Jika kalian melihat kedua gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” [HR. Bukhari no. 1047].

Maka ketika terjadi gerhana maka bersegeralah menunaikan Shalat ini.

Lalu bagaimana cara melaksanakan Shalat Gerhana?

Shalat Gerhana bisa dilakukan sendiri maupun berjamaah, adapun caranya sama seperti melaksanakan Shalat seperti biasa, dan bisa dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.

A. Rakaat pertama

1. Membaca Niat dalam hati (Tidak wajib)

2. Melakukan takbiratul ihram, diikuti dengan doa iftitah.

3. Membaca Al-Fatihah.

4. Membaca Surat Al-Qur’an, disunnahkan surat panjang.

5. Lalu Rukuk dengan tumaninah dan membaca “Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi. (Artinya: Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya.)” 3x.

6. Rukuk dengan tumaninah dan membaca Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi. (Artinya: Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya.) 3x.

7. Setelah rukuk, berdiri mengucap “Sami’allahu liman hamidah” Dan lalu baca “Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi’ta min syain ba’du.” Artinya: “Ya Allah tuhan kami, bagimu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang engkau kehendaki sesudah itu.””

8. Setelah rukuk, berdiri sembari mengucap “Sami’allahu liman hamidah” Dan lalu baca “Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi’ta min syain ba’du.” Artinya: “Ya Allah tuhan kami, bagimu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang engkau kehendaki sesudah itu.”

9. Sujud sembari membaca “Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x).” Artinya: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.”

10. Lalu sujud sembari membaca “Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x).” Artinya: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.”

11. Lalu duduk diantara dua sujjud dan membaca “Robbi Firli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni Wahdini wa’afini wa’fu’anni”​ artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku,Kasihani aku,tutuplah aibku,angkat derajatku,beri aku rezeki,tunjukanlah aku,sehatkan diriku dan ampunilah aku.”

12. Sujud sembari membaca “Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x).” Artinya: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.”

13. Lalu berdiri sembari takbir “Allahu Akbar.”

B. Rakaat Kedua

1. Membaca Al-Fatihah.

2. Membaca Surat Al-Qur’an, disunnahkan surat panjang.

3. Lalu Rukuk dengan tumaninah dan membaca “Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi. (Artinya: Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya.)” 3x.

4. Rukuk dengan tumaninah dan membaca Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi. (Artinya: Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagi-Nya.) 3x.

5. Setelah rukuk, berdiri mengucap “Sami’allahu liman hamidah” Dan lalu baca “Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi’ta min syain ba’du.” Artinya: “Ya Allah tuhan kami, bagimu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang engkau kehendaki sesudah itu.””

6. Setelah rukuk, berdiri sembari mengucap “Sami’allahu liman hamidah” Dan lalu baca “Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi’ta min syain ba’du.” Artinya: “Ya Allah tuhan kami, bagimu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang engkau kehendaki sesudah itu.”

7. Sujud sembari membaca “Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x).” Artinya: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.”

8. Lalu sujud sembari membaca “Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x).” Artinya: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.”

9. Lalu duduk diantara dua sujjud dan membaca “Robbi Firli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni Wahdini wa’afini wa’fu’anni”​ artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku,Kasihani aku,tutuplah aibku,angkat derajatku,beri aku rezeki,tunjukanlah aku,sehatkan diriku dan ampunilah aku.”

10. Sujud sembari membaca “Subhaana rabbiyal a’la wa bihamdihi (3x).” Artinya: “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.”

11. Lalu duduk dan membaca tahiyat akhir.

Membaca niat Shalat Gerhana

Mengenai baca niat masih ada perbedaan, namun dibolehkan sebatas meneguhkan hati agar melaksanakan Shalat yang akan dikerjakan.

Niat shalat gerhana bulan

Mengenai niat Shalat Gerhana untuk Imam.

أُصَلِّي سُنَّةَ الكسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal kusûfi rak‘ataini imâman lillâhi ta‘âlâ.

Artinya::Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana dua rakaat karena Allah ta’ala imaman.”

Dan niat Shalat Gerhana untuk Makmum.

أُصَلِّي سُنَّةَ الكسُوفِ رَكْعَتَيْنِ مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal kusûfi rak‘ataini makmûman lillâhi ta‘âlâ.

Artinya::Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana dua rakaat karena Allah ta’ala makmuman.”

Membaca niat Shalat Matahari

Adapun untuk membaca niat shalat gerhana matahari bagi imam dan makmum adalah sebagai berikut:

Niat shalat gerhana matahari untuk Imam:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ اِمَامًا لِلّهِ تَعَالَى

Latin: “Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi imaaman lillali ta’ala”

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah gerhana matahari sebagai Imam karena Allah ta’ala.”

Niat shalat gerhana matahari untuk Makmum:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى

Latin: “Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi makmuman lillali ta’ala.”

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah gerhana matahari sebagai Makmum karena Allah ta’ala.”

Shalat gerhana paling afdhol dikerjakan berjamaah dan di Masjid

Berdasarkan hadits Nabi, maka pelaksanaan Shalat Gerhana paling afdhol dilakukan di Masjid dan berjamaah.

Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” [Fathul Bari, 4/10].

Ingat! Bukan berarti wajib hukumnya melaksanakan di Masjid dan berjamaah, hanya lebih afdhol saja, apabila anda ingin melakukannya sendiri di rumah juga sah.

Dibolehkan melaksanakan Shalat Gerhana sendirian

Tambahan mengenai bolehkah melaksanakan Shalat Gerhana sendirian, padahal hadits yang kita dapati bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi WaSallam melaksanakan secara berjamaah. Maka jika melakukan Shalat sendiri namun bagaimana dengan khutbah setelah shalat Gerhana?

Untuk itu kita bisa merujuk pendapat Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Muhadzzab menjelaskan bahwa shalat gerhana, baik bulan maupun matahari, bisa dilaksanakan sendirian, tanpa jamaah. Karena khutbah hanya merupakan sunnah, bukan syarat sah.

حَدِيثُ عَائِشَةَ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى اسْتِحْبَابِ خُطْبَتَيْنِ بَعْدَ صَلَاةِ الْكُسُوفِ وَهُمَا سُنَّةٌ لَيْسَا شَرْطًا لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَصِفَتُهُمَا كَخُطْبَتَيْ الْجُمُعَةِ فِي الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ وَغَيْرِهِمَا سَوَاءٌ صَلَّاهَا جَمَاعَةٌ فِي مِصْرٍ أَوْ قَرْيَةٍ أَوْ صَلَّاهَا الْمُسَافِرُونَ فِي الصَّحْرَاءِ وَأَهْلُ الْبَادِيَةِ وَلَا يَخْطُبُ مَنْ صَلَّاهَا مُنْفَرِدًا

“Hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta ketetapan Imam as-Syafi’i dan para pengikutnya telah bersepakat atas kesunnahan dua khutbah setelah shalat gerhana. Dua khutbah tersebut hanyalah sunnah, bukan menjadi syarat sahnya shalat. Dua khutbah ini sama dengan khutbah Jumat dalam rukun, syarat dan selainnya, baik dilaksanakan berjamaah di kota besar maupun di desa, atau musafir di padang pasir maupun di perkampungan. Sedangkan orang yang shalat sendirian tidak perlu melakukan khutbah.”

Itulah informasi tentang Shalat gerhana matahari dan bulan dan semoga bermanfaat untuk anda semua dan silahkan beritahukan kepada keluarga, saudara, kerabat dan teman siapa tahu mereka membutuhkannya dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah dari WaktuJakarta.com berikutnya di masa datang. Semoga informasi ini bermanfaat.

Tinggalkan komentar