Dalil Al-Qur’an Untuk Memperingati Maulid Nabi

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Apakah memperingati Maulid Nabi merupakan perkara baru sesat (Bid’ah Dholalah) tanpa dalil dari al-Qur’an? Silahkan baca penjelasannya disini.

Setiap tahun mayoritas umat Islam di dunia memperingati dan merayakan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam, mereka menyambut kelahiran manusia termulia dan pembawa Rahmat Allah ini dengan berbagai cara.

Cara mereka merayakannya berbeda-beda ada yang berkumpul di sebuah tempat kemudian membaca sejarah Nabi, membaca al-Qur’an, membagikan makanan dan lain sebagainya. Dan yang pasti dilakukan dengan mengisi hal yang Sunnah.

Kemudian muncullah orang-orang yang mempertanyakan dasar Syar’i merayakan Maulid ini. Bagi mereka ini merupakan tindakan baru yang tidak pernah diserukan oleh al-Qur’an pula al-Hadis dan tidak dicontohkan oleh Nabi kemudian para Sahabatnya.

Dalil al-Qur’an untuk memperingati Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam

Alhamdulillah ternyata ada dalil dari al-Qur’an sebagai dasar untuk memperingati dan merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalil yang bisa kita gunakan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam adalah sebagai berikut:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Qs. Yunus (10): 58).

Dari ayat diatas Allah menyerukan kepada kita agar bergembira atas Rahmat-Nya. Dan di ayat lainnya, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Alaa Alihi Wa Sallam adalah Rahmat Allah, yakni di surat berikut ini:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al Anbiya’ (21):107).

Kedua dalil diatas sebagai landasan atau dasar (Ushul) bagi umat Islam untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam.

Bentuk kegembiraan yang umat Islam lakukan terhadap RahmatNya (Yakni Nabi Muhammad) salah satunya adalah merayakan dan memperingati Maulid selain mengikuti perintah dan sunnahnya.

Sikap kelompok Salafi terhadap perayaan Maulid

Kelompok Salafi menolak keras peringatan Maulid karena bagi mereka ini merupakan perkara bid’ah yang tiada perintah dan contoh dari Nabi beserta para sahabatnya.

Akan tetapi kita bisa balik bertanya mengenai ijma mereka yang melakukan hal-hal baru yakni membagi Tauhid menjadi 3.

Jika kita memakai cara berfikir sama seperti mereka, dengan mempertanyakan:

Dimanakah dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang memerintahkan membagi Tauhid menjadi 3 yakni Rububiyah, Uluhiyah dan Asma Wa Shifat?

Tentu mereka tidak akan dapat menjawabnya, kecuali mengatakan bahwa secara eksplisit (tegas) memang tidak ada dalil al-Qur’an memerintahkan membagi menjadi 3, namun secara dasar banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyerukan istilah-istilah Tauhid tadi sehingga tepat untuk dibagi menjadi 3 definisi Tauhid.

Jika kita bicara secara dasar maka bisa saja kita mensahkan banyak hal baru, karena namanya dasar bisa digunakan untuk menghasilkan apapun.

Dalam kasus ini para Salafi terbukti tidak adil dalam menetapkan hukum untuk perkara Maulid, mereka menuntut dalil eksplisit berupa perintah al-Qur’an dan al-Hadis, dan contoh apakah para Nabi dan para sahabatnya merayakan Maulid.

Namun mereka tidak menggunakan cara yang sama ketika menetapkan formulasi Tauhid menjadi 3, apakah ada perintahnya di al-Qur’an dan al-Hadis? Apakah ada contoh dari Nabi dan para sahabatnya membagi Tauhid menjadi 3?

Mereka tidak melakukan hal itu. Namun mereka men-sah-kan pembagian Tauhid dan mendaulatnya sebagai bukan perkara bid’ah.

Sekali lagi yang mereka lakukan adalah: mereka hanya gunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai Ushul / Pondasi  kemudian memahaminya dengan pemahaman mereka sendiri untuk memutuskan bahwa perkara pembagian Tauhid ada dalilnya dan bermanfaat untuk memudahkan mengajari umat mengenal Allah Ta’ala.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca: apakah pembagian Tauhid menjadi 3 adalah bid’ah?

Apakah itu adil?

Maulid adalah bentuk kegembiraan dan dakwah

Seperti sudah kami singgung sebelumnya bahwa merayakan Maulid merupakan bentuk kegembiraan kami terhadap RahmatNya (Qs. Yunus:58).

Di dalam perayaan Maulid dapat kita temui berbagai aktivitas yang disunnahkan yakni:

  • Membaca al-Qur’an.
  • Berdakwah dengan mengisinya dengan ceramah agama.
  • Membaca sejarah Nabi.
  • Membaca pujian kepada Nabi.
  • Berkumpulnya umat Islam dan saling mengenal.
  • Memberi makan umat Islam.

Semua kegiatan di dalam peringatan Maulid adalah Sunnah, tidak menyelisihi Syariat, sedangkan peringatan Maulid merupakan usaha untuk mengingatkan kembali terhadap pribadi dan perjuangan Nabi Muhammad Sallahi Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam.

Yang diharapkan akan memotivasi umat Islam untuk kembali menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan (Uswatun Hasanah) yang Insya Allah mendatangkan Ridho Allah Ta’ala.

Semoga bermanfaat.

Allahu A’lam Bishawab.

4 pemikiran pada “Dalil Al-Qur’an Untuk Memperingati Maulid Nabi”

  1. apakah dengan adanya dalil tersebut kita harus merayakan ,apakah kalian tau merayakan itu dalam artian apa ????? enggak kannnnnn

    Balas
    • Memperingati Maulid dengan diisi perkara yg sunnah, maka tidak ada salahnya. Ini bukan urusan ibadah, jika ibadah maka memang kita mencari dalil yg memerintahkan atau paling tidak membolehkan. Sedangkan Maulid adalah peringatan, yang bukan ibadah, yang didalamnya diisi dengan perkara yang ma’ruf. Jadi tidak mengapa.

      Balas
    • Maulid Nabi pada dasarnya merupakan salah satu perayaan yang ditujukan untuk memuliakan baginda Nabi Muhammad S.A.W atas kelahiran beliau di muka bumi. Beberapa orang menyebut bahwa maulid Nabi merupakan Bid’ah yang tidak ada dalilnya sama sekali dan tergolong perbuatan sesat, hal demikian yang harus diluruskan, pada kenyataannya cukup banyak perihal dalil maulid nabi ini, Sayyid Muhammad bin Alawiy Al-Maliki Al-Hasani menyebutkan:

      وَالْحَاصِلُ اَنّ الْاِجْتِمَاعَ لِاَجْلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ اَمْرٌ عَادِيٌّ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْعَادَاتِ الْخَيْرَةِ الصَّالِحَةِ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَي مَنَافِعَ كَثِيْرَةٍ وَفَوَائِدَ تَعُوْدُ عَلَي النَّاسِ بِفَضْلٍ وَفِيْرٍ لِاَنَّهَا مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا بِاَفْرِادِهَا.

      Artinya: Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Saw merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, hal. 340]

      Tidak cukup sampai disitu saja, bahkan dalam Al-Qur’an pun diisyarahkan perihal maulid Nabi ini, yakni pada surat Yunus ayat 58:

      قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

      Artinya:
      “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad Saw) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58)

      Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah yakni atas diutusnya Muhammad menjadi Nabi serta Rasul di muka bumi ini. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ialah dianjurkan berdasarkan firman Allah SWT pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq Fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah, hal 6-7]

      Dari penjelasan sayyid Muhammad bin Alawi diatas dapat dipahami bahwa hendaknya seseorang merasa gembira atas hadirnya Rasulullah S.A.W di muka bumi ini karena telah diutus untuk meluruskan hal-hal bathil di muka bumi ini, salah satu momen tepat untuk mengungkapkan kegembiraan ini yakni pada saat momen maulid Nabi.

      Dalam Shahih Bukhari disebutkan:

      قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

      “Urwah berkata, Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Ia dimerdekakan oleh Abu Lahab, untuk kemudian menyusui Nabi. Ketika Abu Lahab meninggal, sebagian keluarganya bermimpi bahwa Abu Lahab mendapatkan siksa yang buruk. Di dalam mimpi itu, Abu Lahab ditanya. Apa yang engkau temui? Abu Lahab menjawab, aku tidak bertemu siapa-siapa, hanya aku mendapatkan keringanan di hari Senin karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah.”

      Hadits ini juga disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, al-Imam Abdur Razzaq dalam kitab al-Mushannaf, al-Hafizh al-Baihaqi dalam kitab al-Dalail, al-Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah, al-Hafizh al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah, Ibnu Hisyam al-Suhaili dalam al-Raudl al-Anuf, dan al-Imam al-‘Amiri dalam Bahjah al-Mafahil. Meski merupakan hadits mursal, namun hadits ini tetap dapat diterima riwayatnya, sebab al-Imam al-Bukhari sebagai pakar hadits yang otoritatif mengutipnya dalam kitab al-Shahih, demikian pula para ulama, para penghafal hadits berpegangan pada riwayat tersebut. Di sisi yang lain, hadits tersebut tidak berbicara halal-haram, namun berkaitan dengan sejarah, sehingga tetap bisa dibuat hujjah.

      Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits di antaranya Shohih Bukhori, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi`bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, Juz 7, hal 9, Sunan Baihaqi al-Kubra, Juz 7, hal 9, Syi`bul Iman, Juz 1, hal 443].

      Balas

Tinggalkan komentar