Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP): Cara Dan Rumus Menghitung HPP

MENENTUKAN profitabilitas usaha Anda dan berapa banyak bisnis Anda berhutang adalah hal penting yang harus Anda kuasai.

Oleh

DITERBITKAN 3:18 pm Kam Juni 2021

AKUNTANSI, WAKTUJAKARTA.COM — Ingin memulai bisnismu sendiri? Berpikir untuk membuka toko baju atau bisnis manufaktur kecil?

Ada sejuta detail yang harus dikuasai jika Anda ingin menjadi bos bagi diri sendiri, terutama jika Anda berencana untuk meluncurkan bisnis ritel atau perusahaan yang membuat produk.

Anda akan membutuhkan investor dan pendanaan, ruang untuk berbisnis, dan kemungkinan juga memerlukan mesin produksi.

Tetapi Anda juga harus memahami prinsip-prinsip dasar akuntansi, meskipun Anda memiliki akuntan atau CPA tepercaya yang Anda rencanakan untuk bekerja sama.

Dan satu konsep dasar yang perlu Anda pelajari adalah “harga pokok penjualan”, atau HPP, yang berhubungan dengan biaya bahan dan tenaga kerja.

Untuk menentukan profitabilitas usaha Anda – dan berapa banyak Anda berutang pada bank – Anda harus menguasai metrik ini.

Apa itu Harga Pokok Penjualan (HPP)?

Harga pokok penjualan (HPP) untuk bisnis pada dasarnya adalah jumlah biaya dalam periode tertentu yang diperlukan untuk memproduksi dan menjual barang bisnis. Tergantung pada jenis bisnisnya, harga pokok penjualan bisa jauh lebih mudah atau lebih sulit untuk dihitung.

Seorang pengecer, misalnya, memiliki pemahaman yang cukup jelas tentang barang dan inventaris apa yang dibutuhkan dalam perhitungan. Industri yang berbeda dengan persyaratan manufaktur yang lebih banyak mungkin memerlukan perhitungan yang lebih rumit.

Harga pokok penjualan sering dicantumkan pada laporan laba rugi perusahaan, dan dikurangkan saat menghitung pendapatan kotor perusahaan.

Jika sebuah perusahaan memiliki HPP yang sangat tinggi, calon investor mungkin melihat laporan laba rugi dan melihatnya sebagai alasan besar mengapa laba perusahaan tidak setinggi yang seharusnya, dan akibatnya menolak untuk berinvestasi.

Namun, HPP yang lebih mudah dikelola akan membantu menghasilkan angka yang lebih mengesankan untuk pendapatan kotor.

Baca juga Pengertian Break Even Point (Titik Impas): Rumus, Cara Menghitung, Kelebihan Dan Kekurangan.

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP): Panduan Langkah-demi-Langkah

Ditata dalam istilah seluas mungkin, HPP dapat dihitung dalam tiga langkah yang berujung pada satu formula.

Atau, dengan kata lain, rumus untuk menghitung HPP adalah:

Persediaan awal + pembelian – persediaan akhir = harga pokok penjualan.

Tidak ada latihan misterius dalam akuntansi, Anda akan mengurangi harga pokok penjualan dari pendapatan Anda pada pajak Anda untuk menentukan berapa banyak Anda menghasilkan keuntungan – dan berapa banyak Anda berutang.

Biaya yang lebih tinggi berarti pajak yang lebih rendah tetapi juga laba yang lebih rendah, yang, karena alasan yang jelas, tidak baik untuk bisnis apa pun.

Siap untuk beberapa angka? Nah, ini dia.

1. Hitung Persediaan Awal

Meskipun matematika untuk menentukan HPP sederhana, ada sejumlah detail yang perlu Anda ketahui untuk melakukan perhitungan ini dengan benar. Detail pertama yang Anda perlukan adalah persediaan atau inventaris yang dimiliki bisnis Anda pada awal periode atau kuartal yang relevan, dan cara menghitung semuanya.

Jika Anda telah membuat inventaris, Anda tahu berapa banyak krat minuman ringan, atau berapa kodi sarung atau apa pun produk yang Anda miliki di awal kuartal.

Sekarang Anda membutuhkan angka rupiah untuk inventaris Anda. Jika Anda adalah pengecer kecil atau grosir, pertanyaan ini cukup jelas – berapa biaya untuk membeli inventaris atau produk itu dari pemilik pabrik atau pemasok lain.

Namun, jika Anda adalah pemilik pabrik dan gudang tempat Anda menghitung persediaan penuh dengan barang-barang Anda, maka Anda harus menggali lebih dalam.

Produsen atau pemilik tambang harus menentukan biaya tenaga kerja untuk menghasilkan stok atau produk yang bersangkutan, yang merupakan biaya langsung.

Tapi biaya tidak langsung juga bisa dihitung. biaya tidak langsung  biasa didefinisikan sebagai: Sewa bangunan yang digunakan dalam operasi manufaktur; penyusutan bangunan/peralatan; gaji untuk supervisor produksi dan pihak lain yang terlibat secara tidak langsung; biaya pergudangan; dan tenaga kerja pembotolan dan pengemasan.

Dan juga jangan lupakan bahan mentah dan perlengkapan yang Anda gunakan dalam proses pembuatan, jikalau bisnis Anda adalah manufaktur.

Yang termasuk dalam kategori “biaya lain-lain” adalah “kontainer, ongkos angkut” dan “biaya overhead”.

Baca juga Pengertian Biaya Variabel (Variable Cost), Contoh, Cara Menghitung Dan Manfaatnya.

2. Tambahkan Pembelian Tambahan

Bagian kedua dari rumus HPP meminta untuk mentabulasi pembelian atau penambahan apa pun yang Anda lakukan pada inventaris Anda selama periode atau kuartal yang bersangkutan.

Jika perusahaan Anda membuat barang alih-alih menjualnya kembali, ini termasuk biaya semua bahan mentah atau suku cadang yang dibeli untuk barang dagangan yang ada pada awal tahun yang diproduksi menjadi produk jad. Jika bahan diperoleh dengan diskon, Anda harus menandainya untuk memudahkan identifikasi untuk menghitungnya kelak.

Pengembalian dari pelanggan dan produk atau barang yang diambil untuk penggunaan pribadi harus dikurangi dari pembelian yang dilakukan selama kuartal tersebut.

3. Hitung Persediaan Akhir

Anda mendapatkan sebagian besar angka yang Anda butuhkan setelah langkah-langkah tersebut, tetapi masih ada satu hal penting yang tersisa: biaya inventaris Anda pada akhir periode waktu yang relevan.

Menghitung biaya persediaan akhir Anda memerlukan langkah yang sama seperti persediaan awal Anda, dan setelah Anda melakukannya, Anda memiliki semua perhitungan yang diperlukan.

4. Hitung Harga Pokok Penjualan

Sekarang Anda memiliki apa yang perlu Anda lakukan untuk menghitung harga pokok penjualan untuk bisnis Anda.

Misalnya, Anda adalah seorang pengecer dan kini menghitung harga pokok penjualan untuk pengecer selama setahun terakhir.

Dengan menggunakan tiga langkah sebelumnya, Anda telah menentukan bahwa biaya persediaan pada awal tahun adalah Rp 300.000.000, lalu Anda melakukan pembelian senilai Rp 400.000.000 sepanjang tahun dan memiliki biaya persediaan sebesar Rp 150.000.000 pada akhir tahun. Dengan menggunakan rumus harga pokok penjualan, kita melihat bahwa:

Rp 300.000.000 + Rp 400.000.000 = Rp 700.000.000 – Rp 150.000.000 = Rp 550.000.000

Harga pokok penjualan selama setahun untuk  Anda sebagai pengecer adalah Rp 550.000.000.

Baca juga Apakah Biaya Tetap (Fixed Cost)? Cara Menghitung, Contoh, Manfaat Biaya Tetap.

Pilih Metode Akuntansi

Anda juga harus memilih pendekatan akuntansi keseluruhan yang akan Anda gunakan saat mengambil stok inventaris perusahaan Anda.

Apakah Anda membuat produk sendiri atau grosir, Anda menghadapi fakta dasar yang sama dari dunia bisnis – harga hampir semuanya berubah sepanjang waktu. Itu berarti semua barang di gudang Anda bernilai lebih atau kurang tergantung pada saat diperoleh atau dibuat.

Ada tiga pilihan dasar di sini:

Masuk Pertama, Keluar Pertama, atau First-In, First-Out / FIFO

Di bawah metode ini, Anda menganggap unit inventaris tertua selalu dijual terlebih dahulu.

Masuk Terakhir, Keluar Pertama, atau Last-In, First-Out / LIFO

Ini adalah pendekatan yang berlawanan, di mana persediaan terbaru dijual sebelum yang terlama.

Biaya rata-rata atau average cost

Perhitungan pertama dilakukan dalam rupiah. Anda mengambil nilai rupiah dari inventaris awal Anda dan menambahkan pembelian Anda.

Perhitungan kedua Anda dilakukan berdasarkan per unit – Anda menghitung jumlah unit yang Anda mulai dan menambahkan jumlah yang Anda beli selama kuartal tersebut. Anda kemudian membagi angka persediaan rupiah dengan angka persediaan unit untuk mendapatkan biaya rata-rata per unit.

Rumus Lengkap untuk Menghitung Harga Pokok Penjualan

Seperti yang Anda lihat, formula harga pokok yang kami mulai adalah versi yang disingkat. Sekarang setelah kita mengetahui semua komponen yang menentukan harga pokok penjualan, kita dapat beralih ke versi yang lebih lengkap dan lebih bermanfaat.

Begini cara menggambarkannya:

(Persediaan pada awal tahun + pembelian bersih + biaya tenaga kerja + bahan dan perlengkapan + biaya lainnya) – persediaan pada akhir tahun = Harga Pokok Penjualan (HPP)

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar