Kredibilitas Hadits Anas Bin Malik Tentang Qunut Subuh

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Artikel ini adalah bahasan mengenai kredibilitas tentang hadits mengenai Qunut Subuh yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dengan rujukan kredibilitas.

Pertanyaan:

Saya ingin mengetahui mengenai status Hadis tentang Qunut Subuh, apakah Shahih atau Dhaif, hadisnya berbunyi: Anas Bin Malik (R.A) mengatakan: “Rasulullah tidak pernah meninggalkan Qunut saat Fajar / Subuh hingga akhir hayatnya.” Terhubung dengan Ahmad, al-Bazzar, adDaraqtuni, al-Baihaqi dan al-Hakim.

Jawaban untuk pertanyaan anda: Segala puji hanya kepada Allah Ta’ala.

Hadis ini tidak dilaporkan melalui riwayat Sahih dari Nabi SAW. Hadis ini memiliki tiga isnad dari Anas, dan kesemuanya adalah dhaif.

1—Abu Ja’far al-Raazi

Hadis ini di riwayatkan melalui Abu Ja’far al-Raazi dari al-Rabi bin Anas dari Anas bin Malik (RA). Versi ini mengatakan bahwa Nabi selalu doa Qunut selama sebulan, mendoakan mereka, kemudian meninggalkannya, namun saat sholat Subuh beliau tidak pernah meninggalkan membaca doa Qunut hingga akhir hayatnya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abd al-Razzaaq di al-Musanaf (3/110), dan melaluinya oleh al-Daaraqutni di al-Sunan (2/39). Juga diriwayatkan secara singkat oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Musannaf (2/312), al-Bazzaar (Kashf al-Astaar, 556), Ahmad dalam al-Musnad (3/162), al-Tahhaawi dalam Sharh Ma’aani al-Athaar (1/143), al-Haakim dalam al-Arba’een dan darinya oleh al-Bayhaqi dalam al-Sunan (2/201).

Abu Ja’far al-Raazi’s nama aslinya adalah ‘Eesa ibn Maahaan al-Raazi. Ia dikategorikan sebagai perawi dhaif (lemah) oleh banyak ulama.

Ahmad ibn Hanbal mengatakan: Dia tidak meyakinkan (qawiy) dalam urusan hadis. Yahya ibn Ma’een mengatakan: ia menulis hadis, namun membuat kesalahan-kesalahan. ‘Amr ibn ‘Ali mengatakan: Ada sejumlah kelemahan padanya, ia jujur namun daya ingatnya lemah. Abu Zur’ah mengatakan: Seorang tua yang terkadang bingung. Al-Nasaa’i mengatakan: Ia tidak meyakinkan. Ibn Hibbaan mengatakan: Dia dibedakan dari kebanyakan perawi hadits yang masyur karena meriwayatkan kisah munkar, dan saya tidak akan pernah mengutip hadisnya sebagai bukti kecuali dalam sejumlah kasus dimana dirinya meriwayatkan sesuatu yang juga diriwayatkan oleh perawi terpercaya. Al-‘Ajli mengatakan: Dia tidak meyakinkan dari Tahdheeb al-Tahdheeb (12/57).

2—Ismaa’eel al-Makki dan ‘Amr ibn ‘Ubayd

Melalui Ismaa’eel al-Makki dan ‘Amr ibn ‘Ubayd dari al-Hasan dari Anas. Versi ini mengatakan: Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Usman — dan saya kira dirinya mengatakan: keempat — berdoa Qunut hingga mereka meninggalkanku.

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tahhaawi dalam Sharh Ma’aani al-Athaar (1/243), al-Daaraqutni dalam al-Sunan (2/40) dan al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra (2/202).

Ismaa’eel ibn Muslim al-Makki dan ‘Amr ibn ‘Ubayd al-Mu’tazili: keduanya dhaif dan hadis mereka tidak digunakan sebagai bukti. Berikut adalah sejumlah komentar para ulama mengenai mereka:

Ismaa’eel ibn Muslim al-Makki: mengenai biografi dirinya dalam Tahdheeb al-Tahdheeb (1/332):

Ahmad ibn Hanbal mengatakan: Haditsnya munkar. Ibn Ma’een said: Dia bukan siapa-siapa. ‘Ali ibn al-Madeeni mengatakan: Hadisnya tidak seharusnya ditulis. Abu Haatim mengatakan: Dirinya dhaif dan hadisnya membingungkan. Kutanyakan padanya: “Apakah dirinya lebih baik bagimu atau ‘Amr ibn ‘Ubayd? Dia menjawab: Keduanya lemah. Al-Nass’i mengatakan: Hadisnya harus di acuhkan. Ibn Hibban mengatakan: Dirinya lemah dan meriwayatkan hadis munkar dari perawi ternama, dan mencampur isnaad.

‘Amr ibn ‘Ubayd al-Mu’tazili adalah matruk al-hadeeth (i.e., hadisnya harus di acuhkan). Dia mengatakan hal dusta terhadap al-Hasan. Ini dapat ditemui pada biografinya di Tahdheeb al-Tahdheeb (8/62):

Ibn Ma’een mengatakan: Dirinya bukan siapa-siapa. ‘Amr ibn ‘Ali mengatakan: Hadisnya harus ditolak dan dirinya pengikut bid’ah. Abu Haatim mengatakan: Haditsnya harus ditolak. Al-Nasaa’i mengatakan: Dirinya tidak dapat dipercaya dan hadisnya tidak seharusnya ditulis. Abu Dawood al-Tayaalisi mengatakan, diriwayatkan dari Shu’bah, dari Yunus ibn ‘Ubayd: ‘Amr ibn ‘Ubayd mengatakan hal-hal dusta dalam Hadis. Humayd mengatakan: Jangan mengambil apapun darinya, karena ia berkata dusta tentang al-Hasan. Ibn ‘Awn mengatakan: ‘Amr mengatakan hal dusta mengenai al-Hasan.

Baca juga Sholat Sunnah.

3—Dinar ibn ‘Abdullah

Melalui Dinar ibn ‘Abdullah, pembantu dari Anas ibn Malik. Versi ini meriwayatkan: Rasulullah SAW selalu membaca doa Qunut saat sholat Subuh hingga akhir hayatnya.

Sejumlah ulama menilai hadis ini sebagai dhaif dan tidak valid untuk dikutip sebagai bukti, para ulama yang mengutarakan penolakan terhadap hadis ini adalah ibn Al-Jawzi dalam al-‘Ilal al-Mutanaahiyah (1/444), Ibn al-Turkmaani dalam al-Ta’leeq ‘ala al-Bayhaqi, Ibn Taymiyah dalam Majmu’ al-Fataawa (22/374), Ibn al-Qayyim dalam Zaad al-Ma’aad (1/99), al-Haafiz Ibn Hajar dalam al-Talkhees al-Habeer (1/245) dan diantara para ulama yang datang kemudian.

Baca juga doa Qunut.

Mengenai membaca doa Qunut saat Sholat Subuh selain disaat musibah, maka pandangan yang dianggap kuat ialah Abu Hanifah dan Ahmad, yang menjelaskan bahwa hal itu tidak dirumuskan, karena tidak terbukti melalui isnaad yang Shahih bahwa Nabi SAW tetap membaca doa Qunut saat Sholat Subuh hingga akhir hayatnya.

Allahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar