Kullu Memang Berarti Semua Tanpa Terkecuali (Bukan Kullu = Sebagian)

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Kata Kullu menjadi perdebatan cukup panas antara mereka yang dicap sebagai pengamal bid’ah (Selanjutnya akan disebut sebagai pengamal bid’ah) dan Salafi.

Kasus “perdebatan Kullu” adalah dari pemahaman berbeda terhadap sebuah hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wassalam, yang berisi tentang “peringatan akan bahayanya bid’ah”, hadisnya berbunyi seperti ini:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

Artinya: “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Dari sinilah perdebatan muncul, masing-masing pihak memaknai kata “Kullu” dengan berbeda. Pihak yang dicap pengamal bid’ah mengartikan kullu di matan hadis ini berarti:”Sebagian” artinya Sebagian bid’ah adalah sesat.

Sedangkan kaum Salafi, mengartikan sebaliknya, mengatakan bahwa Kullu adalah bentuk umum yang berarti semua tanpa terkecuali. Semua yang baru adalah sesat bukan sebagian yang baru adalah sesat.

Kalau saya sendiri setuju dengan arti Kullu versi Salafi, yakni semua tanpa terkecuali. Jadi saya mengartikan kata kullu dalam hadis ini adalah semua bukan sebagian.

Namun begitu, saya tidak setuju dengan arti bid’ah versi Salafi yang meyakini bahwa perkara baru pasti sesat.

Persetujuan saya hanya pada arti kullu versi Salafi yakni “Semua tanpa terkecuali”, namun tidak setuju dengan arti bid’ah yang juga diumumkan / tanpa terkecuali oleh Salafi.

Karena jika kita pelajari hadis ini dan membandingkan dengan tindakan para sahabat, maka kita akan dihantarkan kepada kesimpulan bahwa yang Nabi maksud dalam hadits itu adalah, sebagai berikut:

“Semua perkara baru (Yang jelek) adalah sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

Jadi yang ditarget oleh Nabi ialah bid’ah yang sesat yakni yang bertentangan dengan Syariat Islam yang sudah jelas.

Akan saya jelaskan dasar argumen saya meyakinkan kullu bid’ah adalah semua perkara baru yang jelek di bawah ini.

Bid’ah para sahabat

1—Umar bin Khattab mengadakan Tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat

Pertama-tama karena saya bersandar dari keterangan Sayyidina Umar ibn Khattab, yang menyebut perkara baru yang ia kerjakan adalah “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini.”

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Artinya:

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu melakukan Shalat Tarawih sebanyak 20 Rakaat berjamaah, yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wassalam. Nabi tidak pernah melakukan shalat Tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat.

Jadi ini adalah bid’ah Umar bin Khattab.

Tanggapan Salafi membantah adanya bid’ah Hasanah versi Umar bin Khattab

Untuk menanggapi peristiwa penyebutan sebaik-baiknya bid’ah adalah ini oleh Umar bin Khattab, Salafi menjawab dengan 3 point berikut:

Tanggapan 1–Para salafi membantah bahwa kalimat diatas bukanlah bentuk bid’ah dalam beragama, namun hanyalah bid’ah bahasa.

Jawabnya:

Mungkin ini terasa janggal jika aktivitas ibadah (Sholat Tarawih) di hubungkan dengan “bahasa”. Padahal mereka juga melakukan bid’ah.

Jadi tidak bisa diterima jika yang dimaksud Umar adalah bid’ah secara bahasa.

Tanggapan 2–Yang kedua, Salafi membantah dengan mengatakan; “bahwa Nabi pernah melakukan Sholat Tarawih berjamaah jadi tindakan Umar bukan bid’ah”.

Jawabnya:

Nabi memang pernah melaksanakan sholat Tarawih berjamaah, tapi apakah pernah berjamaah sebanyak 20 rakaat? Tidak pernah.

Tanggapan 3–Sholat Tarawih selama satu bulan Ramadhan penuh bukan bid’ah, Nabi tidak melarangnya namun ia tidak lakukan karena khawatir diwajibkan.

Jawabnya:

Jika bukan bid’ah, kenapa kita tidak mengikuti keputusan Nabi, untuk tidak melakukannya selama sebulan penuh.

2—Penambahan Adzan pada sholat Jum’at oleh Utsman Bin Affan

Pada masa kekhalifahan Utsman Bin Affan dimana ekspansi Islam semakin luas ke daerah-daerah nun jauh, semakin banyaknya umat Islam tersebar maka beliau memutuskan untuk menambah Adzan menjadi dua kali saat memasuki waktu Sholat Jum’at ini dikarenakan sebagai pemberitahuan kepada umat Islam yang jumlahnya meningkat.

Para sahabat tiada yang menentangnya, apakah mereka semua bersepakat untuk melakukan kesesatan? Tentu tidak, karena mereka memaknai arti bid’ah hanya perkara baru yang sesat bukan seluruh perkara baru sejauh tidak melanggar tuntunan Islam maka perkara baru ini terpuji.

Lalu pertanyaannya:

Jika Kullu berarti semua perkara baru adalah sesat, maka Umar Bin Khattab telah melakukan kesesatan. Apakah beliau yang merupakan sahabat terdekat pula mertua Nabi SAW tidak mengetahui peringatan itu? Dan para sahabat yang berada disekitar beliau tidak membantahnya, malah semua sepakat dalam kubangan bid’ah sesat?

Bagaimana dengan Usman bin Affan yang juga sahabat terdekat Nabi dan menantunya, apakah melakukan kesesatan yang juga disepakati oleh seluruh sahabatnya dengan menambah Adzan menjadi 2 menjelang sholat Jum’at?

Jawabnya adalah mustahil! Mustahil Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan para Sahabat agung lainnya sepakat dalam kubangan kesesatan.

Berdasarkan peristiwa inilah maka saya berdiri, saya mengartikan bahwa “Kullu Bid’atin” adalah “Semua Perkara Baru Yang Sesat” adalah “Kesesatan”. Bukan semua Bid’ah, dan bid’ah hasanah tidak termasuk dalam kategori bid’ah sesat.

Makanya ketika Umar bin Khattab melakukan bid’ah dan para sahabatnya menyepakatinya itu karena mereka tahu yang Nabi Muhammad maksudkan adalah “Semua bid’ah yang sesat” meskipun didalam redaksi hadisnya tidak tersebut kata “yang sesat”, dan para Sahabat memahaminya seperti itu.

Begitupun ulama Mazhab, seperti Imam Syafi’i memaknai bahwa bid’ah itu tidak semuanya sesat. Akan tetapi ada yang terpuji.

البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم

Artinya:

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela.” [Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113].

Yang membedakan antara bid’ah sesat dan terpuji ialah “tuntunan Rasulullah”, jika melanggar / menyelisih tuntunannya maka tergolong bid’ah sesat, jika sebaliknya maka dikategorikan bid’ah terpuji.

Sekali lagi, para sahabat dan ulama salaf memahami pemaknaan sebenarnya dari hadits “Kullu Bid’atin Dholalah” adalah “Semua bid’ah yang jelek / sesat adalah kesesatan”.

Allahu a’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar