Polemik Tahunan Soal Mengucap Selamat Natal

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Setiap tahunnya umat Islam selalu dihadapi dua polemik besar yang juga menghasilkan perang argumen besar antara kedua belah pihak, dua polemik tersebut adalah Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan Natal Yesus Kristus.

Hari lahir kedua insan tersebut sejatinya adalah Maulid, karena Maulid berdasarkan bahasa berarti hari lahir, jadi jika dimudahkan adalah setiap tahun umat Islam di Indonesia dipaksa berpolemik akan Maulid Nabi Muhammad dan Maulid Yesus Kristus.

Baik Nabi Muhammad maupun Yesus Kristus adalah dua insan yang amat diagungkan dan dimuliakan oleh masing-masing pengikutnya, tentu kelahiran mereka seharusnya menghadirkan kegembiraan bukan polemik. Saya yakin mereka tidak menginginkan umatnya bertikai dengan argumen ketika menyambut hari kelahirannya.

Jika Maulid Nabi umat Islam dihadapkan dengan perkara bid’ah atau tidaknya memperingati Maulid. Sedangkan pada kasus Natal, haram atau tidaknya memberi ucapan kepada umat Kristiani yang merayakannya. Anehnya, pada kasus Natal yang berpolemik—sepanjang pengetahuan saya—adalah sesama umat Islam. Umat Kristiani sepertinya tidak menghiraukan mau diucapin atau tidak, karena mereka memilih untuk menyibukan diri mempersiapkan kedatangan hari Natal.

Pada kasus Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam sudah saya bahas di sini, jadi saya rasa tidak usah diulas lagi di artikel ini. Artikel ini khusus membahas tentang Maulid Yesus Kristus.

Mengenai Natal, saya pribadi sebagai seorang Muslim sejak lahir, Alhamdulillah, hingga kini merasa super heran dengan begitu giat dan agresifnya saudara seiman yang berjuang mati-matian agar umat Islam mau mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani.

Sepanjang pengetahuan saya, umat Kristen merasa tidak masalah jika saudara atau temannya yang beragama Islam mengucapkan selamat Natal atau tidak.

Sedikit cerita tentang pengalaman saya, dulu waktu kuliah saya memiliki tiga orang sahabat, satu seorang Muslim dan dua lainnya beragama Katolik.

Bertahun-tahun saya bergaul dengan mereka, tidak sekalipun saya mendengar mereka meminta saya mengucapkan selamat Natal, jika mau jujur mereka malah sama sekali tidak peduli, mau diberi selamat syukur jika tidak yah tidak apa-apa.

Pernah sekali waktu saya katakan kepada salah satu teman saya yang beragama Katolik begini: “Sorry yah gue gak ga ngucapin selamat”. Dia jawab, gak masalah bro, kan gue tahu diagama lo dilarang, jadi mending jangan lo ucapin deh, karena gue ga mau elo merasa berdosa melanggar perintah agama lo cuma demi gue.

Saya terharu mendengar jawaban lugas teman saya itu, dia memiliki tingkat pemahaman dan solidaritas tinggi dibandingkan saudara-saudara seiman saya yang giat mengkampanyekan untuk memberi ucapan selamat Natal.

Alasan para penyeru untuk mengucap selamat Natal amatlah konyol, yakni demi kerukunan antar umat beragama. Lalu saya tanyakan, sejak kapan mengucapkan hari raya agama lain mendukung kerukunan antar umat beragama? Buktinya saya sendiri sejak 2001 hingga kini tidak sekalipun pernah mengucapkan selamat Natal kepada teman-teman saya yang Kristen, namun hubungan kami baik-baik saja, bahkan sangat baik malah.

Kerukunan antar umat beragama bukan dibangun dengan lip service, yakni ucapan, namun dibangun dengan rasa menghargai dan memandang mereka bukan dari background agama, namun sebagai manusia yang memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik dan benar. Ini sudah cukup menciptakan kerukunan antar umat beragama.

Dan tidak mengucap selamat Natal bukan berarti orang tersebut tidak mau ada perbedaan dan memandang umat Kristen sebagai musuh, sama sekali tidak, namun alasan mereka karena perintah agama untuk tidak mengakui urusan apapun yang sifatnya adalah keyakinan mendasar dari agama Kristen.

Ada lagi yang mengatakan, mana mungkin sekedar mengucap selamat Natal lalu bisa murtad, apalah arti sebuah ucapan. Jikalau mengatakan apalah arti sebuah ucapan, lalu kenapa anda begitu ngotot ingin agar umat Islam mengucapkannya? Toh itu hanyalah sebuah ucapan tidak bermakna, dan saya yakin umat Kristen lebih menghargai rasa hormat dan persahabatan kita lewat tindakan dibandingkan sekedar ucapan.

Memang terjadi perbedaan antara para ulama mengenai hukum mengucapkan selamat Natal, ada yang mengharamkan adapula yang membolehkan. Yang mengharamkan berlandaskan karena Natal adalah bagian dari syiar agama mereka, oleh karenanya mengucapkan selamat terhadap syiar agama mereka menjadi perkara yang haram.

Dan kedua ialah ulama kontemporer Yusuf Qardhawi dimana beliau menjelaskan jikalau mengucapkan kepada Kristiani yang cinta damai terhadap kaum Muslim, apalagi termasuk sebagai kerabat, tetangga rumah, teman sekolah, rekan kerja dan lainnya. Lebih lanjut ia menambahkan hal itu adalah kebajikan yang tidak dilarang Allah Azza Wa Jalla [Sumber: Era Muslim].

Dan saya pribadi mengambil pendapat pertama yakni haram karena mendukung syiar agama mereka, namun bukan berarti saya memusuhi, hanya sebatas tidak mendukung dan tidak pula menyemangati lewat apapun meski sebatas ucapan selamat.

Akan tetapi siapapun bebas untuk mengambil dari pendapat yang membolehkan, dan jangan memaksakan orang lain untuk ikut.

Jadi intinya bagi yang mengambil pendapat bahwa mengucapkan selamat Natal tidak haram silahkan mengucapkan, dan bagi yang mengambil pendapat bahwa mengucapkan selamat Natal adalah haram, maka silahkan teruskan. Masing-masing kita akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang kita pegang dan jalankan di dunia ini.

Yang saya heran adalah begitu banyak persoalan umat yang jauh lebih berat dan pelik, namun masalah ucapan selamat Natal diberi perhatian khusus. Insya Allah kedepannya kita tidak lagi terlilit oleh kebodohan yang menjengkelkan ini, dan tidak akan terulang lagi, selamanya Aaamiiin Allahuma Aaamiiin.

Tinggalkan komentar