Sifat Wajib & Mustahil Nabi Dan Rasul (Penjelasan Lengkap)

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Para pembawa ajaran Tuhan kepada manusia adalah para Rasul, dan mereka adalah para insan yang memang dipilih untuk mengemban tugas ini guna membimbing manusia ke jalan yang sesuai tuntunan Tuhan.

Dan karakter mereka sudah ditetapkan sebelum mereka terlahir ke bumi, yakni empa sifat yang telah ditetapkan pasti melekat dalam diri mereka. Mustahil jika seorang Nabi atau Rasul tidak memilikinya, meskipun salah satunya. Karena sifat ini merupakan ciri eksplisit yang ditemukan sebagai kodrat yang dibawa sejak lahir.

Contohnya pada diri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam, yang menolak menyusu dari bagian yang menjadi jatah saudara sesusuan. Ini merupakan ciri luar biasa sebagai bukti bahwa seorang Nabi memang insan murni pilihan dengan sifat yang tidak mau mengambil yang bukan haknya.

Dan diantara sifat-sifat mulia para Nabi dan Rasul, ada empat sifat yang menjadi identitas dari mereka. Dan sifat ini adalah sifat wajib para Nabi dan Rasul. Dan keempat sifat wajib ini akan dibahas satu-satu dari keempatnya.

Selain sifat wajib terdapat pula sifat mustahil para Nabi dan Rasul yang juga harus kita fahami agar lebih mengerti kenapa para Nabi dan Rasul adalah manusia yang lebih dari segi kemuliaan dibandingkan kita.

Sifat wajib para Nabi dan Rasul

Mengenai keempat sifat wajib para Nabi dan Rasul adalah sebagai berikut:

  1. Siddiq.
  2. Amanah.
  3. Tablig.
  4. Fathonah.

Keempat sifat itulah yang menjadi ciri khas alamiah ditemukan pada diri setiap Nabi dan Rasul, tanpa mereka meskipun tanpa salah satunya, maka mustahil mereka seorang Nabi. Biasanya Nabi palsu tidak memiliki sifat-sifat ini.

Adapun penjelasan dari masing-masing sifat wajib para Nabi dan Rasul adalah sebagai berikut.

1. Siddiq

وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ

”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah,” (al-Hasyr, 7).

Siddiq merupakan bahasa Arab yang memiliki makna terhormat yakni “jujur”. Dan para Nabi wajib memiliki sifat jujur. Yakni jujur menyampaikan apa yang wajib ia sampaikan.

Yakni wahyu Allah yang wajib disampaikan, tanpa menambah atau mengurangi pesan dari wahyu itu sendiri. Siddiq adalah lawan kata dari dusta (Kidzib). Kidzib adalah sifat mustahil dari para Nabi. Jika Nabi memiliki sifat ini maka tersesatlah umatnya.

Siddiq merupakan jaminan paten bahwa semua aturan dan ajaran yang keluar dari ucapan maupun tindakan Nabi adalah murni tanpa ada modifikasi apapun, namun sepenuhnya sesuai dengan yang diperintahkan.

2. Amanah

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” (QS. asy-syuara’ 143).

Amanah ini artinya dapat dipercaya, jika seseorang sudah siddiq, tentulah ia amanah. Dalam konteks komunikasi sehari-hari jika kita mendengar kata amanah, maka pikiran kita langsung mengarah kepada seseorang yang dapat dipercaya, jika diminta untuk menyampaikan sesuatu maka ia akan menyampaikan tanpa menambah dan mengurangi, jikalau ia dipercaya dengan urusan uang, maka jaminan uang tersebut tidak akan dipakai olehnya.

Nah dalam konteks kenabian maka seorang Nabi dan Rasul dipercaya untuk mengemban risalah dan ajaran Islam, maka mereka pun melakukannya sesuai dengan yang diamanahkan kepada mereka.

3. Tabligh

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. al-Ahzab, 39).

Tabligh artinya menyampaikan, tugas seorang Nabi dan Rasul adalah menyampaikan ajaran Allah. Mustahil mereka berdiam diri ketika wahyu diturunkan kepada mereka untuk disebarkan kepada umat.

Oleh karenanya kita sering dapati—dalam hadits—bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kerap menjelaskan banyak hal kepada para sahabatnya baik sebelum ditanyakan kepadanya maupun setelah ditanyakan.

Jadi sifat wajib Nabi adalah tabligh yakni menyampaikan kepada umatnya.

4. Fathonah

وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ

“Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.” [al-An’am, 83].

Fathonah berarti cerdas atau brilian. Mustahil seorang Nabi dungu, karena mereka sudah di atur sebagai pribadi yang cerdas yang memahami dengan cepat akan wahyu yang diturunkan kepadanya, sehingga mereka dapat dengan mudah menjelaskan kepada umat dari berbagai kelas intelektual dan sosial.

Seperti kita dapati bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam begitu jelas dan terasa amat mudah menjelaskan perkara-perkara yang sebenarnya sulit kepada para sahabatnya, dan mereka dapat mengertinya dengan cepat, dikarenakan penjelasan dari seorang yang fathonah yakni Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Jika seorang Nabi dungu, maka mustahil mereka menjelaskan kepada umat, sehingga umat bukannya tercerahkan malah menjadi bingung dan sesat.

Oleh karenanya sifat Fathonah inilah sifat wajib para nabi yang tentu saja sudah lumrah jikalau ada pada diri setiap nabi dan Rasul.

Sifat mustahil para Nabi dan Rasul

Tentu para Nabi mustahil memiliki sifat-sifat yang akan menodai kenabian, sifat mustahil Nabi juga terdiri dari empat, yang sangat bertolak belakang dengan gambaran seorang Nabi.

Adapun empat sifat mustahil para Nabi dan Rasul adalah sebagai berikut:

  1. Kidzib.
  2. Khianat.
  3. Khitman.
  4. Baladah.

Kini mari kita ulas masing-masing dari sifat mustahil Nabi dan Rasul berikut ini.

1. Kidzib

مَاضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَاغَوَى وَمَايَنْطْقُ عَنِ الْهَوَى اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُّوْحَى (النجم ۴-۲)

Artinya:”Kawanmu (Muhammad)tidak sesat dan tidak (pula)keliru,dan tidaklah yang diucapkan itu (Al-Quran)menurut keinginannya tidak lain (Al-Quran) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(Q.S An-Najm:2-4).

Kidzib artinya dusta atau bohong. Seorang Nabi dan Rasul adalah figur yang diciptakan melebihi dari manusia biasa baik dari karakter dan perilakunya. Karena diri mereka memiliki identitas sebagai manusia terbaik untuk urusan yang baik.

Maka akan tampak aneh jikalau sifat dusta ditemui dalam diri seorang Nabi. Karena mereka menjelaskan bahwa dusta adalah perbuatan dosa dan dilarang oleh agama, namun dirinya pernah berdusta, meskipun satu kali saja, maka ternodalah dia.

Dan sifat dusta / kadzib adalah salah satu dari empat sifat mustahil yang ditemukan pada diri para Nabi dan Rasul.

2. Khianat

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (al-Anfal, 58).

Khianat sifat yang tidak dapat dipercaya, ibarat anda mempercayai seseorang orang untuk menjalankan usaha yang anda modali. Namun ternyata dia berkhianat kepada anda, tentu anda akan merasa kecewa dan sakit hati.

Karenanya sifat buruk yang satu ini mustahil ditemukan kepada mereka yang mendapat tugas sebagai Nabi dan Rasul. Mereka bukan pengkhianat, namun penyampai dengan semurni-murninya apapun yang mereka ditugaskan untuk menyampaikannya.

3. Kitman

قُلْ لاَ اَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِى خَزَائِنُ الله وَلاَ اَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَاَقُوْلُ لَكُمْ اِنِّ مَلَكٌ اِنْ اَتَّبِعُ اِلاَّّ مَا يُوْحىَ اِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الاَعْمَى وَالْبَصِيْرُ اَفَلاَ تَتَفَكَرُوْنَ ( الانعام ۵۰)

Artinya: ”Katakanlah (Muhammad),Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku,dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat.Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.Katakanlah,Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan (nya).”(Q.S. Al-An’am: 50).

Kitman artinya adalah menyembunyikan, mustahil para Nabi menyembunyikan yang harus ia sampaikan entah karena alasan apapun. Mustahil seorang Nabi menyembunyikan ajaran atau wahyu kepada umat dengan alasan khawatir melukai perasaan atau khawatir akan keselamatan dirinya jika wahyu tersebut disampaikan.

Sifat kitman / menyembunyikan mustahil ada para diri Nabi, meskipun pahit terdengar dan berbahaya jika disampaikan, apapun kondisinya para Nabi tetap akan menyampaikan tanpa menyembunyikan apapun.

4. Baladah

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْبِالْمَعْرُوْفْ وَاَعْرِضْ عَنِ الَمُشْرِكِيْنَ( الاعرف ۱۹۹)

Artinya:”jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf,serta janganlah pedulikan orang – orang yang bodoh.”(Q.S Al-a’raf : 199).

Baladah berarti bodoh atau dungu, meskipun santer kita membaca dan mendengar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam buta huruf, namun bukan berarti bodoh. Kebodohan kaitannya dengan intelektualitas, sedang buta huruf kaitannya dengan hasil dari kebiasaan.

Misalkan seorang buta huruf bukan berarti dia bodoh, bisa karena di lingkungannya tidak lazim orang membaca, namun lebih banyak menghafal, karenanya masyarakat tersebut merasa tidak perlu menuliskan sesuatu untuk dibaca, hasilnya mereka jadi tidak kenal huruf.

Sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bukanlah orang bodoh, karena kebodohan berkaitan dengan intelektualitas, karenanya jikalau Nabi bodoh mustahil dia dapat menjelaskan berbagai macam pelik persoalan umat dengan jitu, dan semua penjelasannya adalah solusi yang kemudian menjadi jalan keluar umatnya.

Kesimpulan

Jikalau kita amati 4 sifat wajib dan mustahil para Nabi dan Rasul didominasi oleh penekanan akan kepercayaan (wajib: siddiq, amanah, tabligh dan mustahil: kidzib, khianat, kitman), karena memang urusan kepercayaan sangatlah penting bagi setiap manusia.

Manusia menilai seseorang berdasarkan kredibilitasnya (hal yang dapat dipercaya) jikalau seorang manusia tidak dapat dipercaya, hancurlah masa depannya, kedepannya setiap yang ia ucapkan akan dianggap sebelah mata oleh orang lain.

Oleh karenanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendapat gelar al-Amin, gelar ini didapat bahkan sebelum beliau menerima wahyu pertama.

Dan gelar itu diberikan penduduk Mekah kepada Nabi dikarenakan mereka dapati beliau adalah seorang pria yang jujur, sangat amanah dan juga dapat dipercaya.

Hal kepercayaan inilah yang menjadi salah satu dari sekian faktor utama kesuksesan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam di Mekkah dan Madinah, hingga menyebar ke jazirah Arab, lalu belahan dunia lainnya hingga melampaui batas waktu terus hingga beberapa generasi sampai kepada kita hingga kepada mereka para manusia akhir zaman kelak.

Semoga artikel 4 sifat wajib dan mustahil para Nabi dan Rasul ini bermanfaat untuk anda jika ada saran dan koreksi silahkan sampaikan di kolom komentar, dan sampai jumpa lagi di artikel-artikel Dakwah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah berikutnya dari AiTarus.com di masa depan.

Tinggalkan komentar