Penjelasan Kalimat “La Ilaha Illallah”

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Penjelasan terperinci tentang bagian paling dasar dan juga amat penting dari agama Islam yakni kesaksian iman “Tidak ada yang berhak dan pantas disembah secara sah selain Allah ( La ilaha ‘illAllah)”.

Dasar agama Islam adalah mengucapkan dua kalimat Syahadat:

(i) Tidak ada Tuhan selain Allah ( La ilaha ‘illAllah ), dan

(ii) Muhammad adalah Utusan Tuhan ( Muhammadur RasulUllah ).

Frasa ini dikenal sebagai Syahadat, atau kesaksian iman. Melalui kepercayaan dan pengesahan dua frasa ini, seseorang memasuki Islam. Ini adalah motto bagi orang-orang beriman yang akan mereka pertahankan sepanjang hidup, dan dasar bagi iman, ibadah, dan keberadaan mereka. Artikel ini akan membahas mengenai Syahadat.

Pentingnya Kesaksian ‘La Ilaha Illallah’

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kesaksian ini merupakan aspek paling penting dari agama Islam, karena menegaskan keyakinan pada Tauhid, atau Keesaan dan keunikan Tuhan, di mana seluruh agama dibangun. Karena alasan ini disebut sebagai, “Deklarasi Tauhid”. Keunikan dan kesatuan ini menuntut kita untuk menunaikan hak tunggal Allah untuk beribadah dan taat padaNya.

Agama Islam pada dasarnya adalah cara hidup di mana seseorang menyembah dan mematuhi perintah Tuhan dan tidak ada yang lain. Ini adalah satu-satunya agama monoteistik sejati, menekankan bahwa tidak ada ibadah yang harus ditujukan kepada yang lain kecuali kepada Allah Azza Wa Jalla.

Untuk alasan ini, kita melihat bahwa dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad, Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sahbihi Wa Sallam, mengatakan bahwa siapa pun yang mengatakan kalimat ini dan mempraktekkannya akan memasuki Surga selamanya, dan siapa pun yang menentangnya akan dikutuk ke Neraka selamanya. .

Pernyataan ini juga menegaskan kembali tujuan hidup setiap manusia, yang merupakan penyembahan kepada Allah saja, dan jelas, tujuan keberadaan dan keberadaan seseorang adalah aspek terpenting dalam kehidupan seseorang. Allah berfirman dalam Al Quran:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Surat Az-Zariyat 51:56).

Pesan Tauhid yang ditemukan dalam deklarasi ini tidak khusus untuk Islam. Karena pentingnya, kenyataan dan kebenaran dari pesan ini, itu adalah pesan yang dibawa oleh semua nabi. Sejak awal kemanusiaan, Tuhan mengirim utusan ke setiap orang dan bangsa, memerintahkan mereka untuk menyembah hanya Allah saja, dan untuk menolak semua dewa palsu. Tuhan berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.(Surat An-Nahl 16:36).

Hanya ketika gagasan Tauhid ini tertanam dalam hati dan pikiran seseorang maka mereka akan dengan sukarela mengikuti perintah-perintah Allah dan memberikan semua penyembahan hanya kepada-Nya. Karena alasan ini, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam mengundang umatnya selama tiga belas tahun di Mekah hanya untuk Tauhid, dan hanya sedikit perintah ibadah yang dimandatkan pada waktu itu. Hanya ketika gagasan ini menjadi kuat di hati orang-orang beriman dan mereka rela mengorbankan bahkan nyawanya sendiri untuk itu maka mayoritas perintah Islam lainnya diungkapkan pada tahap ini.

Arti La Ilaha Illallah

La Ilaha Illallah, secara harfiah berarti “Tiada tuhan selain Allah”. Huruf “t”  pada tuhan diberi kecil merupakan apapun yang dituhankan. Dan pendklarasian pada Syahadat, adalah tidak ada tuhan apapun—apapun yang disembah manusia selain Allah—pantas untuk dituhankan dan disembah.

Itu artinya tidak ada yang punya hak untuk disembah, dan tidak ada yang pantas untuk disembah, kecuali hanya Allah, itulah maksud dari La Ilaha Illallah. “Tiada tuhan (Tiada tuhan berhak dan pantas disembah) kecuali Allah”.

La Ilaha ….. (Tidak ada tuhan….)

Dua kata ini menyangkal hak setiap makhluk ciptaan atau apapun untuk disembah. Umat ​​Islam menolak penyembahan segala sesuatu selain kepada Allah. Penolakan ini meluas ke semua aspek yaitu pada takhayul, ideologi, cara hidup, atau tokoh otoritas apa pun yang menuntut pengabdian, cinta, atau kepatuhan mutlak ilahi.

Tuhan dalam Al-Qur’an menyebutkan di banyak ayat bahwa semua hal yang orang ambil sebagai objek ibadah selain diriNya sendiri tidak layak disembah, juga mereka tidak punya hak untuk itu, karena mereka sendiri adalah ciptaan dan tidak memiliki kekuatan untuk memberi manfaat apa pun.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu manfaat apapun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan”. (Surat Al-Furqan 25: 3).

Beberapa orang menyembah objek atau makhluk lain karena mereka percaya bahwa ia memiliki kekuatan khusus, seperti kendali atas alam semesta, kekuatan untuk memberi manfaat atau membahayakan, atau bahwa ia layak disembah di dalam dan dari dirinya sendiri karena keagungannya.

Tuhan menepis anggapan bahwa benda-benda ini yang diambil orang sebagai objek penyembahan, apakah itu merupakan aspek alam, seperti angin, pohon, batu, angin; atau makhluk sadar, seperti manusia, nabi, orang suci, malaikat, raja, memiliki kekuatan dalam diri mereka sendiri.

Mereka hanyalah ciptaan seperti para penyembah itu sendiri dan tidak memiliki kekuatan untuk membantu bahkan untuk diri mereka sendiri, dan dengan demikian mereka tidak boleh disembah. Mereka hanyalah ciptaan dengan segala kekurangan, bahkan tunduk pada kehendak Allah, dan dengan demikian mereka tidak layak mendapatkan hak untuk disembah.

Pada kenyataannya, banyak orang percaya pada kendali dan kuasa Allah, namun disaat yang sama mereka membayangkan adanya Kerajaan Ilahi dari Tuhan seperti halnya kerajaan yang ada di dunia. Seperti halnya seorang raja memiliki banyak menteri dan para pembantu yang terpercaya, mereka juga membayangkan keberadaan “orang-orang suci” dan “tuhan” kecial sebagai perwakilan Tuhan. Dan mereka menganggap semua ini sebagai perwakilan untuk mendekati Tuhan, sehingga mereka juga memuja pihak yang mereka anggap sebagai perwakilan Tuhan.

Untuk hal ini Allah berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (Surat Az-Zumar 39:38).

Sebenarnya, tidak ada pendoa syafaat dalam Islam. Tidak ada orang benar yang harus dihormati, tidak ada makhluk lain yang harus disembah. Seorang Muslim mengarahkan semua ibadah langsung dan eksklusif hanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

…Illallah (… Kecuali Allah)

Setelah menyangkal hak setiap makhluk ciptaan untuk disembah, Syahadat menegaskan keilahian hanya untuk Tuhan, dengan kalimat ‘…kecuali Allah’. Di banyak tempat dalam Al-Quran, setelah Tuhan menegaskan bahwa segala ciptaan memiliki kekuatan untuk membawa manfaat dan bahaya, sehingga tidak layak disembah.

Allah menyatakan bahwa Dia sendirilah yang harus disembah, karena Dia memiliki kendali atas dan kepemilikan seluruh alam semesta. Allah Sendiri yang memenuhi kebutuhan ciptaannya; Dia memegang kendali penuh. Dia adalah satu-satunya yang dapat membawa manfaat dan bahaya, dan tidak ada yang dapat menghalangi keinginan-Nya untuk menjadi kenyataan.

Demikianlah Dia sendiri, melalui kesempurnaan-Nya, melalui kuasa-kuasa-Nya yang tertinggi, karena kepemilikan totalnya, dan karena kebesaran-Nya, yang pantas menerima semua ibadah, pelayanan, dan penghormatan secara eksklusif.

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Surat Ar-Ra’d 13:16).

Allah juga berfirman:

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (Surat Al-‘Ankabut 29:17).

Dan Allah berkata:

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)”. (Surat An-Naml 27:60).

Karena Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak disembah, segala sesuatu yang disembah di samping atau bersama dengan-Nya adalah kesalahan besar, dan menggugurkan iman seorang Muslim. Semua tindakan pengabdian harus diarahkan hanya kepada Allah.

Semua persyaratan harus berasal dari persyaratan dari-Nya. Semua ketakutan akan hal yang tidak diketahui harus dibawah porsi dengan ketakutan akan Allah. Dan semua harapan harus diletakkan kepada-Nya. Semua cinta ilahi harus hanya pada-Nya, dan semua yang dibenci harus dibenci demi Dia.

Semua perbuatan baik harus dilakukan untuk mencari Ridho Allah. Dan semua kesalahan harus dihindari demi mengikuti segala laranganNya. Dengan cara ini umat Islam hanya menyembah Allah, dan dari sini, kita memahami bagaimana seluruh agama Islam didasari pada deklarasi Tauhid ini dan oleh karena itulah pendeklarasian Syahadat ini ada di urutan pertama dalam Rukun Islam kemudian empat rukun lainnya. Dan memahami akan hal ini akan menjauhi kita sebagai Umat Islam akan Syirik.

Tinggalkan komentar