Yasinan Malam Jum’at Bukan Perkara Sesat

Photo of author



WAKTUJAKARTA.COM — Apakah membaca surat Yasin (Yasinan) pada malam Jum’at sesuatu yang dilarang atau bid’ah sesat yang membawa pelakunya ke neraka?

Yasinan artinya membaca surat Yasin bersama, bagi saya mengatakan Yasinan pada Malam Jum’at sebagai bid’ah sesat adalah tindakan yang amat fatal.

Padahal kita tahu Yasinan adalah aktivitas membaca Al Qur’an, yang merupakan tindakan amat bermanfaat, bahkan teramat banyak manfaatnya, bagaimana hal membaca Al Qur’an disebut sesat? Selain itu Yasinan sebagai syiar Islam dan menghidupkan Masjid dan Surau pada saat berlangsungnya.

Bagaimana mungkin perkara tersebut dianggap sesat? Hanya karena tiada contohnya? Hanya karena tidak tertulis dalam Hadis dimana baik Nabi dan para Sahabatnya tidak pernah melakukannya.

Memang tiada salah kekhawatiran mereka menolak Yasinan jika berlandaskan alasan-alasan tadi, tapi mengatakannya sebagai bid’ah sesat maka itu adalah anggapan amat berani dan bisa pula disebut sebagai bid’ah sesat.

Padahal saat Yasinan kita membaca surah Yasin yang merupakan salah satu surat yang agung di dalam al-Quran, dimana kita mengingat Allah Ta’ala karena berusaha mencari ridhoNya.

Membaca Yasin beramai-ramai tiada tuntunan

Dan Allah Ta’ala dan RasulNya amat menyukai kumpulan orang yang berdzikir padaNya seperti hadis berikut:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya:

“Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya.”

Jika antum mengatakan hadis itu menjelaskan tentang dzikir (Mengingat Allah) bukan membaca Yasin, bukankah bisa saja di Qiyaskan dimana membaca Yasin juga sebagai ibadah yang pada hakikatnya mengingat Allah Ta’ala.

Yasinan sesat karena tiada dalil membolehkan khususkan beribadah pada waktu tertentu

Lalu jika antum mempermasalahkan kenapa harus malam Jum’at Yasinannya, kenapa tidak malam lain?

Ya akhiy tiada larangan untuk mengkhususkan beribadah pada waktu tertentu seperti pendapat Ibnu Hajar berlandaskan sebuah hadis Sahih dimana Nabi beberapa kali melakukan sesuatu hal pada waktu-waktu beliau khususkan.

Inilah pendapat Ibnu Hajar.

الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحة والمداومة على ذلك ، وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثة ليس على التحريم

Artinya:

“Hadits ini dengan sekian jalur yang berbeda menunjukkan akan diperbolehkannya menjadikan hari-hari tertentu untuk sebuah ritual yang baik dan istiqamah. Hadits ini juga menerangkan bahwa larangan bepergian ke selain tiga masjid (Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, dan Masjid Nabawi tidak haram).” [al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari III/69, Dar al-Fikr Beirut].

Hadis yang menjadi landasan al-Hafiz Ibnu Hajar untuk ber-fatwa diatas adalah sebagai berikut:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ
(صحيح البخاري)

Artinya:

“Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba setiap hari sabtu baik dengan berjalan kaki maupun dengan mengendarai kendaraan, sedangkan Abdullah selalu melakukannya.” [HR. Imam al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari I/398 hadits 1174].

al-Hafidz Ibnu Hajar merupakan ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya dan tahu apa yang ia katakan, ulama sekelasnya tidak akan mengeluarkan pernyataan yang serampangan.

Jadi melaksanakan Yasinan bukan mengerjakan perkara tanpa dalil, seperti mereka yang menghukumi begitu, akan tetapi karena berangkat dari dalil.

Tambahan mengenai artikel dalil Yasinan malam Jum’at:

Jadi berdasarkan dalil Yasinan malam Jum’at ternyata ada dan bukan di amalkan hanya berlandas hawa nafsu pelakunya. Dan bisa dilakukan kapan saja.

Membaca surat Yasin tidak pernah ditetapkan / dikhususkan waktunya oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam, artinya bisa dibaca kapan saja, sejauh tidak saat dikumandangkan Adzan dan tidak disaat waktu sholat Fardhu sehingga menunda melaksanakannya.

Lalu bagaimana mungkin membacanya pada waktu tertentu menjadi perkara yang sesat dengan ancaman api neraka? Berfikirlah wahai ikhwan.

Allahu a’lam Bishawab.

Tinggalkan komentar